Tuesday, 10 September 2019

5 Keistimewaan Bung Hatta Sosok Pahlawan Inspiratif Bangsa Indonesia

Semasa SMA, saya rajin mengunjungi perpustakaan. Setiap jam istirahat, setelah makan di kantin saya selalu menyempatkan diri untuk membaca buku di perpustakaan. Meskipun kadang bacaannya membosankan, namun sekuat tenaga terus membaca sampai bel masuk berbunyi. Meskipun kadang terkantuk-kantuk saat membacanya. 

Buku sejarah dan biografi adalah dua tema buku bacaan yang saat itu saya sukai. Buku biografi yang tamat saya baca dari awal sampai akhir adalah buku biografi Bapak Proklamator Indonesia Muhammad Hatta. Selalu kagum  dengan sosok pahlawan satu ini. Keluasan ilmunya, kefasihan diplomasinya, kekuatan akan prinsip-prinsip yang ia pegang teguh dalam hidupnya, sungguh menjadi teladan yang patut ditiru oleh segenap warga negara Indonesia ini.



Setidaknya ada 5 hal dari kepribadian Mohammad Hatta yang membuat saya sangat kagum dan menaruh hormat luar biasa. Apa saja? Yuk baca di tulisan di bawah ini!

1.   Sebagai Bapak proklamator Bangsa
Bersama Ir. Soekarno, beliau merupakan Bapak Proklamator Kemerdekaan Bangsa Indonesia. Perannya dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia secara diplomatis dari penjajahan Belanda sangat berpengaruh besar sehingga beberapa perundingan berhasil ia pimpin dan membawa keuntungan yang besar bagi bangsa Indonesia. Bersama Ir. Soekarno, beliau menjadi salah satu anggota BPUPKI yang menjadi cikal bakal terciptanya kemerdekaan Negara Indonesia.

2.   Komitmen yang tinggi pada demokrasi di Indonesia
Mohammad Hatta yang mempunyai nama lahir Mohammad Athar ini adalah sosok yang sangat berkomitmen terhadap demokrasi di Indonesia. Beliaulah yang mengeluarkan Maklumat X yang menjadi tonggak awal demokrasi Indonesia. Maklumat ini yang mendorong pembentukan partai-partai politik sebagai bagian dari demokrasi dan dikeluarkan untuk persiapan rencana penyelenggaraan pemilu. Dengan demikian,  Maklumat yang dikeluarkan pada 3 November 1945 ini dapat disebut sebagai tonggak awal terbentuknya demokrasi di Indonesia.

3.   Pemikir di Bidang Ekonomi sehinga dijuluki Bapak Koperasi
Di bidang ekonomi, pemikiran dan sumbangsih beliau terhadap perekonomian khususnya perkembangan koperasi membuat ia dijuluki sebagai Bapak Koperasi. Ia memikirkan bagaimana usaha-usaha kecil dapat berkembang dan memiliki daya jual tinggi sehingga disalurkan melalui koperasi-koperasi yang nantinya akan membangun perekonomian Indonesia dari bawah.

4.   Pencinta Buku
Pada saat beliau dibuang Belanda ke Digul Papua karena berurusan dengan masalah politik, beliau membawa serta semua buku-bukunya. Begitupun saat dipindahkan dari Digul ke Banda Neira, buku-buku itu turut menemaninya ke pengasingan.

  5. Disiplin dalam segala aspek
     Sejak kecil, Hatta selalu disiplin. Bahkan hingga dewasa dan menjadi seorang perdana menteri. Salah satu contohnya adalah ia sangat disiplin terhadap penggunaan kendaraan dinas. Sewaktu akan menjemput ibunya saja Hatta menyuruh saudaranya untuk menyewa mobil bukan menggunakan mobil dinasnya. Beliau bilang kalau mobil itu adalah mobil negara, jadi tidak patut untuk digunakan bagi kepentingan pribadi.

Sebenarnya masih banyak sisi positif yang saya kagumi dari beliau. Namun saya lupa detailnya dan takut salah maklum sudah lama tidak membaca kembali biografinya. Ada banyak teladan yang dapt kita petik dari seorang Hatta. Keikhlasan dan kesungguhannya dalam berjuang perlahan kita nikmati sekarang. Semoga saja kita sebagai warga negara yang baik dapat mengambil pelajaran dari nilai-nilai kepahlawanan Mohammad Hatta.





Monday, 9 September 2019

Kenangan Masa Kecil yang Paling berharga

Saya baru menyadari betapa indahnya masa kecil ketika sudah berada jauh dari kampung halaman. Ketika satu per satu kenangan akan masa lalu kembali diputar ulang dalam ingatan. Biasanya, memori akan masa kecil akan terputar kembali tatkala menghadapi rumitnya masalah pekerjaan di kantor atau masalah lainnya di komunitas-komunitas yang saya ikuti.

Capung
Capung di sawah dekat rumah di kampung halaman.


Jika mengingat masa kecil, saya bersyukur betapa bahagianya hidup saya dulu meskipun secara ekonomi terbilang biasa-biasa saja. Namun hari-hari yang dijalani terisi dengan aktivitas-aktivitas positif seperti main dan belajar. Sekolah, main, mengaji. Rutinitas yang selalu membuat malam ingin segera berlalu. Ingin kembali ke sekolah karena teman-teman di sekolah yang menyenangkan. Ingin lekas bermain karena permainan kami seru-seru dan ingin segera mengaji karena saat mengaji juga tak lepas untuk bermain dan main hehe.

Selama usia Sekolah Dasar, saya memang puas bermain. Pulang sekolah langsung main ke rumah teman. Atau gantian teman yang main ke rumah saya. Sekedar main amsak-masakan atau menangkap capung di pematang sawah. Saking asyiknya main, bahkan kadang lupa makan. Mandi pun harus sama-sama dengan teman, mandi bareng di pancuran. Saat mandi pun tetap saja main air sampai biru kedinginan. 

Beberapa permainan yang ternyata membuat kami semakin hari semakin matang dalam berfikir diantaranya main petak umpet, main kucing-kucingan, main galah, tatarucingan (tebak-tebakan), juga main masak-masakan. Lucunya saya dan teman-teman pernah juga main keluarga-keluargaan. Pura-pura menikah (waktu itu pengantin prianya adalah sepupu saya). Ceritanya saya hamil, hamil mengandung boneka kecil yang dililitkan menggunakan kain di perut. Terus ada paraji (dukun anak) yang membantu persalinan saya. Hahaha. Kalau ingat itu saya ngakak banget. Saat itu saya juga menyusui boneka itu. Sepupu saya yang pura-pura jadi suami, dia kemudian pergi untuk bekerja. Saya dan teman-teman adalah peniru ulung. Percakapan orang dewasa saat itu sering kami tirukan dan asyik saja untuk jadi bahan permainan kami. Membuat rumah-rumahan, membuat dapur, membuat kompor, makanan, belanjaan, dan segala jenis kegiatan orang dalam keseharian kami jadikan permainan atau pura-pura. Lumayan kreatif.

Karena bermain-main seperti ini pulalah maka ketika tumbuh besar kemudian menikah, hamil dan melahirkan, saya tidak gugup menghadapi persalinan ditambah lagi banyak-banyak bertanya dan membaca. Di otak saya selalu merasa bahwa hal-hal itu biasa dan akan mudah saya lewati. Dan ternyata Alhamdulillah semuanya lancar. 

Selain 3 kegiatan masa kecil yang rutin di atas yakni sekolah, bermain dan mengaji, kenangan lainnya yang paling melekat adalah sering diajak nenek ke kebunnya. Mencabut rumput teki, memanen wortel, singkong, bengkoang, buncis dan sayuran lainnya yang nenek tanam di kebunnya. Dari nenek pula saya mengenal nama-nama rempah, sayuran dan palawija. Selain itu saya juga tipe anak yang kepo sehingga semua hal ditanya. Sementara itu nenek tipe orang yang mudah bercerita dan suka mendongeng. Klop. Jadinya saya banyak mengetahui hal-hal yang cucu nenek lain tidak ketahui. Apalagi saya sering menemani nenek tidur di rumahnya. Sebelum tidur, saya suka sekali mendengarkan nenek bercerita panjang lebar tentang masa lalu. 

Padi di sawah. Satu hal yang kerap menerbangkan ingatan ke masa kecil


Herannya ingatan nenek masih kuat sekali. Beliau masih ingat saat sekolah di zaman Belanda. Lalu masa-masa genting  zaman perjuangan, zaman gerombolan DI/TII dan zaman munculnya PKI. Begitu juga pada masa-masa pemerintahan Presiden Sukarno dan Suharto. Ingatan nenek masih baik dan mampu menceritakan dengan runut peristiwa-peristiwa yang terjadi. Karena hal itulah saya jadi menyukai pelajaran sejarah di sekolah. Apa yang diceritakan nenek ternyata banyak kesamaan dengan yang saya dapat di bangku sekolah.

Kenangan masa kecil lainnya yang paling melekat di ingatan saya adalah bermain di sawah. Bermain-main di pematang sawah sambil memperhatikan kegiatan para petani mulai dari menyemai benih, mengikat bibit padi yang sudah tumbuh, menyangkul, membajak sawah, menandur, mengairi, hingga memanen. Semua kegiatan di sawah ini saya masih menyimpannya dengan  baik di dalam memori. Makan bersama di tepi sawah adalah hal teristimewa yang selalu saya rindukan. Bersama sepiring nasi liwet, goreng ikan asin, sambal, lalapan dan kerupuk. 

Sepertinya tak cukup waktu seharian untuk menuliskan cerita tentang masa kecil saya yang Alhamdulillah terukir bahagia. Ada banyak peristiwa menyenangkan lainnya yang satu-satu mulai saya ingat kembali ketika paragraf pertama dan kedua dituliskan. 

Kesimpulan dari tulisan ini adalah bahwa masa kecil saya yang lengkap dan bahagia ternyata merupakan bekal dan persiapan dari Allah SWT untuk saya dalam menghadapi kesulitan hidup di masa yang akan datang. Dukungan keluarga, kasih sayang orang tua dan saudara serta bekal dasar agama yang kuat, ternyata merupakan bekal sehingga saya mampu bertahan dan menjalani hidup bahagia hingga sekarang. Alhamdulillah.

Sunday, 11 August 2019

Hidayah itu Dijemput Bukan Ditunggu!


         “Yang sering dijadikan alasan oleh para wanita untuk menunda pelaksanaan berjilbab adalah mereka mengatakan saya belum berjilbab karena belum mendapatkan hidayah dari Allah SWT. Kalau sudah turun hidayah  gak usah disuruh-suruh nanti juga akan berjilbab dengan sendirinya. Syubhat ini muncul karena kebodohanketidaktahuan, kekurangan ilmu yang menyebabkan dia salah paham terhadap hidayah sehingga menyebabkan dia menunda untuk berjilbab. Memang benar ia belum dapat hidayah. Yang salah adalah dia tidak berusaha untuk mencari hidayah ini.” Ceramah Ustadz Abu Haidar di Radio Hang FM Batam pada Tanggal 03 Februari 2013 jam 10 pagi.

Tuesday, 1 January 2019

Wednesday, 19 December 2018

Target Blogging Tahun 2019

Tahun 2019 sudah di depan mata. Tahun yang banyak menyimpan harapan dan impian banyak orang. Tentu saja saya pun tidak ingin menjadi orang yang merugi. Karena orang yang merugi adalah orang yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin. Maka dari itu, tahun 2019 adalah tahun yang harus lebih baik dibanding dengan 2018. Tentu saja lebih baik dalam segala hal termasuk dalam urusan blogging (ngeblog).