Monday, 21 September 2020

Mensyukuri Kehidupan Toleransi di Negara Indonesia

Menurut KBBI toleransi bermakna sifat atau sikap toleran atau dimaknai lain yakni batas ukur penambahan atau pengurangan yang masih diperbolehkan, atau bisa juga diartikan sebagai sesuatu yang masih di perbolehkan, penyimpangan yang masih dapat diterima dalam pengukuran kerja.

Toleransi secara bahasa berasal dari bahasa Latin “tolerare” yang berarti sabar dan menahan diri. Toleransi juga dapat diartikan suatu sikap saling menghormati dan menghargai antar kelompok atau antar individu baik dalam masyarakat ataupun dalam lingkup yang lain.

Keragaman 

Toleransi dalam Kehidupan Bernegara dan Bermasyarakat

Sejak kecil kita selalu diperkenalkan dengan semboyan negara yaitu “Bhineka Tunggal Ika” dimana berarti walaupun berbeda-beda tetapi satu jua. Dengan semangat ini bangsa Indonesia sudah mulai memahami bahwa bangsa ini merupakan bangsa yang terdiri dari beragam suku, budaya dan agama sehingga diperlukan sebuah pengertian dalam bingkai toleransi yang akan tetap menyatukan bangsa ini menjadi sebuah keutuhan masyarakat Indonesia yang baik dan berbudi pekerti luhur.

Jika dilihat dari negara-negara lainnya di belahan dunia, kita sebagai masyarakat Indonesia patut bangga karena selain merupakan negara demokrasi, kita juga merupakan negara dengan masyarakatnya yang memiliki toleransi yang sangat tinggi. Bahkan di belahan dunia Barat seperti Eropa dan Amerika, Mediterania, Amerika Latin, atau bahkan negara Asia lainnya masih saja terdengar konflik antar kelompok dan golongan yang sangat anti toleransi.

Di dunia modern seperti sekarang pun, bahkan di negara yang konon mengusung demokrasi seperti Amerika Serikat, masih saja terjadi hal-hal yang intoleran seperti kasus Black Live Matter dimana merupakan satu contoh kesenjangan dan intoleransi ras kulit terhadap ras kulit hitam di Amerika Serikat.

Pun begitu juga dengan isu toleransi antar umat beragama. Bahkan pemerintahnya sendiri yang mengekang kebebasan untuk menjalankan praktik dalam agama. Di beberapa negara, ada yang bahkan untuk menjalankan ibadah saja dipersulit. Seperti beberapa kasus penghancuran masjid dan tempat ibadah lainnya.

Saya amat bersyukur lahir, besar dan hidup di negara ini. Tak mudah rasanya menjadi seorang pemeluk agama di suatu negara yang liberal, otoriter atau bahkan sekuler. Akan banyak hal yang sangat menghalangi saya untuk menjalankan ibadah dengan baik. Sementara di negeri ini, sungguh kebebasan memeluk dan menjalankan praktik agama bahkan dilindungi Undang-Undang.

Di lingkungan tempat kerja saya, sangat terlihat keberagaman yang bisa dinilai bahwa toleransi di negara kita sangat baik. Ratusan karyawan merupakan para pendatang ke kota ini yang berbeda-beda suku, budaya dan agama. Namun kami tetap bekerja dengan baik dan menjalin komunikasi dengan baik pula.

Pihak perusahaan juga mengakomodir kebutuhan karyawan untuk beribadah dengan menyediakan musala bagi Muslim dan menyediakan lokasi untuk agama lain beribadah. Perusahaan juga mendukung kegiatan para karyawan untuk menyelenggarakan kegiatan keagamaan seperti Majelis Taklim dan Perkumpulan Do'a. Pada hari-hari besar keagamaan juga sesuai hari libur nasional maka perusahaan tetap patuh dan taat untuk memberikan hak libur kepada para karyawannya.

Masyarakat di lingkungan perumahan kami juga sangat beragam. Namun toleransi tetap terjaga sehingga sangat minim bahkan tidak ada konflik horizontal antar warga. Meskipun kami tahu bahwa kami berasal dari berbagai daerah di luar pulau yang tentu saja memiliki ketidaksamaan dalam hal adat, bahasa, budaya, agama dan kebiasaan sehari-hari. Hendaknya memang kita bersyukur hidup di Indonesia. Terlepas dari berbagai kekurangan dari pelayanan pemerintah ataupun perilaku warganya, masyarakat Indonesia sungguh siap dan terlatih dalam menyikapi toleransi.

24 comments:

Nurul Sufitri said...

Bangga dan bahagia tentunya kita hidup di Indonesia dengan beragam agama dan adat istiadaat namun ada toleransi agama yang cukup baik. Dibilang cukup baik karena di tahun2 sebelumnya kan malah baik sekali. Entah kenapa belakangan ini seperti ada penyulut untuk saling menzholimi agama satu dengan lainnya. Semoga masyarakat kita tetap aman dan damai seperti dulu ya aamiin :) Barusan aku follow blog mbak Lina yach. Tampilannya baru nih :D

Nanik nara said...

Iya, sejak kecil saya juga ingat banget, udah ditanamkan "bhinneka tunggal ika". Saat di kampung sih belum terasa apa gunanya menerapkan itu. Setelah merantau baru deh terasa, bergaul dengan orang yang berbeda-beda agama, sosial, budaya.

Elly Nurul said...

Alhamdulillah ya.. kita hidup di negara yang beragam dan sangat mencintai keberagaman jadi sejak kecil kita sudah terbiasa dengan keberagaman jadi ngga ada alasan untuk tidak mencintai negara Indonesia ini..

tantiamelia.com said...

sepertinya emang dunia udah berubah ya

jaman aku SD, padahal aku berdampingan dengan beberapa ras dan agama yang berbeda dan fine fine aja. tetanggaku malah orang Filipin yang anaknya selalu tidur di rumah aku tiap hari hihihi

Andiyani Achmad said...

nah iya, setuju sama yang mbak tanti katakan, saat aku SD SMP SMA juga masih berasa kental kok toleransi antar ras dan agama, malah aku kebanyakn berteman sama yang beda ras dan agama dan kami gak ada masalah kok justru saling menghargai

nurul rahma said...

Kalo toleransi betul2 dilaksanakan dgn paripurna, hidup akan terasa jauuuhh lebih indah.
Semoga anak2 kita bisa jadi generasi dgn toleransi yg baik ya

Suciarti Wahyuningtyas (Chichie) said...

aku tuh salah satu orang yang menjunjung toleransi karena kebetulan aku pun berada di tengah keluarga yang banyak sekali perbedaan, budaya dan keyakinan juga.

Helenamantra said...

Di Batam pulau kecil yang sungguh beragam, banyak pendatang juga ya. Syukurlah kalau aman dengan saling bertoleransi.

Kalau aku, ingetnya ya di Al Quran udah dijelaskan bagimu agamamu, bagiku agamaku jadi ya mari bertoleransi dengan kaidah tersebut.

Dee_Arif said...

ah senang baca tulisan ini..
indonesia sangat beragam ya mbak, sudah seharusnya saling bertoleransi

Dewi Rieka said...

wajah Indonesia yang sebenarnya ya toleransi ini ya Teh, kita merasa aman dan nyaman tinggal di lingkungan yang walaupun berbeda-beda tapi tetap rukun..sedih kalau lihat situasi sekarang kesannya kita tuh nggak saling menghormati antar pemeluk agama..

April Hamsa said...

Indonesia emang dikenal akan toleransinya, krn banyaknya suku, agama, budaya
Tapi semenjak negara api menyerang keknya skrng banyak yg gampang sensi.
Berharap banyak momen yang bvisa kembali menyatukan bangsa ini.
Toleransi itu bikin kita makin kuat jd jangan sampai nilai2 ini meghilang ya mbak? tugas kita sebagai ortu harus mengajarkan jg nih ke geneasi berikutnya ttg makna toleransi yg sesungguhnya

Nathalia Diana Pitaloka said...

Alhamdulillah ya...
Jadi inget waktu kerja, ruangan saya (7 orang) ada 4 agama: Islam, Protestan, Katolik, dan Hindu :)

Damar Aisyah said...

Lingkungan tempat tinggalku yang sekarang sangat beragam tapi alhamdulillah gak ada gesekan apa-apa. Sempat agak sensi kemarin pas masa-masa pilkada Jakarta itu. Beberapa tetangga yang Chinese agak krg nyaman kalau diajak datang ke pertemuan, khawatir tidak diterima. Tapi syukurlah kami bisa meyakinkan bahwa masalah pilkada nggak sampai memengaruhi lingkungan kami yg sangat beragam itu tadi.

Jalan-Jalan KeNai said...

Kalau saya pribadi, hingga saat ini dalam kehidupan nyata masih merasa baik-baik aja. Sesama umat beragama dan suku manapun toleransinya masih tinggi. Keramaian hanya saya rasakan di medsos. Tetapi, mungkin karena di beberapa tempat memang terjadi kasus, ya.

Hidayah Sulistyowati said...

Aku lahir dan besar di lingkungan yang beragam di kawasan Pecinan, mbak. Jadi udah sejak kecil juga orang tua menanamkan keberagaman. Sedih memang sekarang banyak yang baperan dengan setitik perbedaan. Padahal Indonesia lahir dari keberagaman suku dan budaya juga bahasa

Nunung Yuni Anggraeni said...

Toleransi di perumahanku terasa sekali. Meski mayoritas muslim , kami juga menghormati dan menghargai tetangga yang beragama nasrani dan ada yang hindu juga. Tolong menolong dan kekeluargaan sekali. Serasa di kampung deh.

lendyagasshi said...

Saling menghargai agar bisa hidup damai dengan berdampingan.
Di mulai dari lingkungan terkecil yaa...yaitu keluarga. Uda gak perlu mempermasalahkan hal-hal yang rasis.

Ruli retno said...

Iya ya di batam itu pasti banyak sekali perantau, teman aku di jawa banyak juga merantau kerja disana. Pasti toleransi disana sangat baik karena gak pernah liat ada demo dan kericuhan disana hehehe

Alfa Kurnia - pojokmungil.com said...

Alhamdulillah ya, Mbak. Sebenarnya dari dulu tu toleransi budaya dan agama di negara kita sudah terterapkan dengan baik. Setidaknya itu yang saya rasakan. Hanya sejak ada media sosial suka banget terbaca konflik di sana sini. Sedih juga kalau gitu.

Uniek Kaswarganti said...

Secara umum memang perbedaan agama di negara kita tidak menjadi masalah mba. Ada sih tetap yang sukanya mencari-cari masalah, tapi sedikit aja sih ya prosentasenya. Aku pernah mengalami sendiri soalnya saat kerja dengan bos yang beda keyakinan, hmm... rada sulit saat mau sholat.

diane said...

Semoga bangsa kita selalu hidup rukun dengan segala perbedaannya ya...Karena perbedaan di Indonesia itu luar biasa..

Dian Restu Agustina said...

Sedih jika perbedaan dijadikan alasan untuk mengoyak persatuan. Sejak dulu kita sudah berbeda dan baik-baik saja semua. Dan karena ulah segilintir oknum yang tak suka, perbedaan ini jadi snjata untuk merusak toleransi yang ada. Sedih!!

Unknown said...

Senang rasanya tinggal dan bekerja di lingkungan kondusif karena menjunjung toleransi. Saling menghargai dan menghormati. Semakin kompak, ya.

aurabiru said...

sepakat mbak, bersyukur banget tinggal di Indonesia yang toleransinya cukup tinggi. soalnya pernah merasakan tinggal di luar negeri tepatnya Hong Kong kadang mau menjalankan ibadah di tempat terbuka masih dipandang aneh.