Wednesday, 19 August 2020

Podcast Menarik dari Pak Dahlan Iskan

Tema ODOP bersama ISB kali ini adalah tentang Podcast. Tahun lalu tema ODOPnya juga pernah mengulas tentang membuat podcast. Alhamdulillah saya memaksakan diri untuk buat dan berhasil. Saat itu saya bercerita tentang peresmian sebuah masjid baru di Batam, namanya Masjid Sultan Mahmud Riayat Syah terletak di Jalan Brigjen katamso Tanjung Uncang. Ke depannya, masjid ini akan menjadi destinasi wisata religi di Kota Batam terlebih karena kemegahan dan kecantikan arsitekturnya.



Untuk kali ini, saya tidak ingin membuat podcast baru namun hanya ingin membahas satu podcast dari Pak Dahlan Iskan (Abah), seorang jurnalis, mantan Pemilik Jawa Pos Grup dan mantan Menteri ESDM yang baru-baru ini dipaksa oleh putranya yang bernama Azrul Ananda untuk membuat podcast.


Ada satu bahasan menarik yang diobrolkan oleh kedua orang bapak dan anak ini. Dimana dalam podcastnya Abah dan Azrul menceritakan tentang perjuangan Azrul mengikuti pertukaran pelajar ke Amerika Serikat pada tahun 1993. Tujuan Abah menyekolahkan anaknya jauh-jauh ke Amerika adalah agar anak-anaknya pandai berbicara Bahasa Inggirs. Tidak seperti dirinya yang sama sekali tidak bisa berbahasa Inggris. Ini semacam dendam pribadi. Ujar Abah. Selain itu Abah juga berharap agar Azrul memperoleh pendidikan yang berbeda dari beliau. Yakni agar tidak menjadi jurnalis seperti dirinya. 


Kenapa bisa memilih Amerika Serikat? Waktu itu ada iklan di koran tempat Abah bekerja. Ia menunjukkan iklan tersebut dan menawarkan kepada Azrul. Saat itu ahun 1993 terdapat program pertukaran pelajar dari English First (EF) dan pilihannya ke Amerika Serikat. Abah tidak meberi tahu istrinya bahwa Azrul akan ikut pertukaran pelajar. Jadi setelah Azrul lulus tes dan hendak berangkat, baru dikasih tahu sehingga ibu nangis setiap hari. Karena kesibukannya sebagai orang media, Abah bahkan tidak sempat menghantar Azrul ke bandara. 


Azrul ditempatkan di Kota Kansas. Ia tiba ke rumah orang tua angkatnya dengan dihantar oleh konselor. Tiba di rumah John jam 10 malam. Sehingga langsung disuruh istirahat. Di kota ini jarang sekali ditemui orang dengan kulit berwarna. Bahkan yang berkulit hitam dari Afrika saja hanya ada satu orang sedangkan Azrul sendiri menjadi orang Asia satu-satunya yang terdapat di kota itu. Bahkan yang Chinese pun tidak ada sama sekali.


Azrul ditempatkan di sebuah keluarga kulit putih dengan dua orang anak perempuan. Keluarga ini tidak memiliki anak laki-laki. Dia diceritakan oleh John bahwa keluarga mereka sempat diskusi apakah benar mau menerima anak Asia karena mereka belum tahu banyak tentang karakter orang Asia. Andrea anak John mengatakan, "Ya sudahlah terima saja kalau nggak di sini mau kemana lagi?" 


Meskipun demikian, Azrul tetap merasakan keramahan keluarga ini yang luar biasa. Toleransinya pun sangat tinggi, bahkan selama Azrul tinggal di sana, keluarga ini tidak makan babi sama sekali. Sekolahnya juga toleran karena dia muslim, koki sekolah menyediakan masakan khusus. Dan ketika bulan puasa pun teman-teman sekolahnya tahu dan sangat menghargai bahwa dia sedang berpuasa.


Untuk berkomunikasi dengan keluarga di Indonesia, Azrul hanya menggunakan telepon satu kali saja selama bersekolah dan tinggal di sana. Waktu itu belum ada handphone, belum ada email.sehingga sangat sulit menghubungi keluarga di Indonesia. Jadi ia pasrah saja. Dulu ada istilah Collect Call untuk menelpon dimana yang menerima yang akan membayar. 


Setiap hari John selalu mengantar jemput Azrul sekolah. Sepulang Azrul sekolah, John selalu mengajaknya untuk menemani bekerja di kantor media hariannya. Sedikit demi sedikit Azrul faham akan seluk beluk dunia pemberitaan dari mulai menulis, memfoto, menerbitkan hingga mengedarkan. Ilmu-ilmu jurnalistiknya diajarkan langsung oleh John yang kebetulan bergelar master di bidang jurnalistik.


Bersama John, Azrul merasakan bahwa ternyata beginilah rasanya mempunyai orang tua. Sebelumnya, karena kesibukan Abah sebagai pemilik jaringan media terbesar di Surabaya yang kemudian menjadi jaringan media besar di Indonesia, Abah jarang sekali berinteraksi dengan anak-anaknya. Karena harus berangkat pagi dan pulang pagi. Pada kesempatan di podcast itu Abah meminta maaf kepada Azrul karena merasa tidak mengurus anak-anak saat kecil dikarenakan kesibukannya itu. 


Selama satu tahun Azrul jarang kontak dengan Abah dan Ibu. Tepat satu tahun di Amerika, Abah dan Ibu menjenguk Azrul ke Amerika. Sayangnya, waktu itu Abah tidak bisa bicara Bahasa Inggris sama sekali sehingga tidak banyak mengobrol dengan John. Dari situ Abah mulai belajar Bahasa Inggris.


Menurut Abah, John sangat sopan bahkan kesopanannya melebihi orang Jawa. Sebagai ucapan terima kasih karena telah mengurus Azrul selama sekolah di Amerika, Setiap liburan musim panas, John diundang Abah untuk datang ke Indonesia dan diminta menjadi pengajar di beberapa kantor jaringan Jawa Pos. 


John mengajarkan teori dasar jurnalistik juga teori-teori lainnya termasuk cara mengambil foto di kerumunan orang banyak. Banyak sekali John menularkan ilmu jurnalistik kepada wartawan-wartawan Jawa Pos. Ia sudah singgah ke berbagai wilayah ke Indonesia sampai 17 kali.


Akhirnya keluarga Abah dan John menjadi keluarga sendiri. Pak DI pernah tinggal 3 bulan di rumah John untuk belajar Bahasa Inggris. John berperan banyak terhadap sentuhan di Indonesia. 

No comments: