Saturday, 22 August 2020

Pengalaman Merantau ke Jakarta dan Batam

Pertama kali merantau pada tahun 1995 ketika memasuki bangku SMA. Niatnya karena ingin melanjutkan sekolah di SMA Negeri yang bagus di sana. Sayang pendaftaran sudah ditutup dan kalaupun masih buka kemungkinan juga akan susah karena sistem penerimaan siswa menggunakan sistem rayonisasi sehingga kecil kemungkinan bagi penduduk luar Jakarta bisa dengan mulus mendaftar di SMA Negeri.

Batam
Pusat Kota Batam

Karena terlanjur sudah di Jakarta dan karena semua SMA negeri sudah tutup, akhirnya kakak mendaftarkan saya ke SMA swasta. Dia memilihkan saya bersekolah di sebuah SMA di kawasan Srengseng Sawah Jakarta Selatan. Rencana awal sekolah di sini hanya untuk 6 bulan saja, selanjutnya akan pindah ke SMA Negeri. Namun, setelah 6 bulan ternyata saya mendapatkan beasiswa dan keluarga bilang sayang kalau beasiswa ini tidak diambil. Karena itu, tidak jadi pindah dan tetap bersekolah di SMA tersebut hingga kelas 3 selesai dengan beasiswa full selama 3 tahun. 

Tamat SMA saya pulang kembali ke kota asal di Garut Jawa Barat. 3 tahun tinggal di Jakarta dan tiba-tiba harus menyesuaikan kembali hidup di kampung mendadak aneh dan tidak betah. Serba gelisah rasanya. Belum lagi kangen kepada teman-teman SMA dan juga suasana sekolah yang menyenangkan. 

Meskipun tinggal di kampung, saya tetap bertekad untuk melanjutkan ke jenjang kuliah. Jika ibu bapak tidak mampu membiayai kuliah saya kelak, maka saya bertekad harus bisa kuliah dengan biaya sendiri. Karena itu berarti saya harus bekerja. 

Untuk mengusir rasa bosan, akhirnya saya ikut sepupu untuk menjadi tenaga pengajar honorer di sebuah Madrasah Tsanawiyah di kampung sebelah selama 9 bulan. Gaji per bulan tidak seberapa. Hanya Rp 90.000 saja. 

Setiap hari, saya selalu berdoa dan yakin kepada Allah bahwa suatu saat nanti jalan hidup ini akan berubah menjadi lebih baik hingga suatu waktu saya mendengarkan berita di radio bahwa dibutuhkan puluhan karyawan untuk dipekerjakan di sebuah perusahaan multinasional di Kota Batam. Tak menunggu lama saya melamar ke Disnaker Kabupaten Garut dan mengikuti prosedur perekrurtan karyawan seperti pada umumnya. Saat dinyatakan lulus saya sempat kebingungan karena belum izin kepada orang tua. Namun karena tekad sudah bulat tidak dapat dihalang-halangi lagi, saya pun akhirnya berangkat merantau ke Kota Batam. 

15 Maret 1999 saya dan teman-teman bertiga puluh orang dari Garut dan Tasikmalaya terbang ke Kota Batam. Dan inilah awal saya merantau jauh dan lama hingga sekarang. Bahkan kini statusnya bukan perantau lagi karena sudah mengantongi KTP Batam. 

Kami ditempatkan di dormitory, sejenis asrama (Mess) 4 lantai yang menampung seluruh karyawan rekrutan dari berbagai wilayah di Indonesia. Pada saat itu, Kota Batam merupakan kota industri dan menjadi tujuan utama para investor juga pencari kerja. Dengan pertumbuhan ekonomi paling tinggi se-Indonesia, kota ini tumbuh begitu pesat, membangun dan menyediakan berbagai kawasan industri lengkap dengan berbagai fasilitasnya. 

Meskipun diterpa krisis moneter, tahun-tahun 90an akhir dan awal 2000an investor asing banyak masuk ke Kota Batam. Tenaga kerja dari berbagai daerah di Indonesia banyak didatangkan. Terutama dari kota-kota seperti Makasar, Surabaya, Malang, Kediri, Semarang, Bandung, Palembang dan Medan. Para tenaga kerja ini diurus oleh pihak perusahaan dan pengelola kawasan. 

Dormitory kami terletak di Kawasan Industri Batamindo Muka Kuning. Merupakan kawasan industri yang paling lengkap dengan berbagai fasilitas yang ada di dalamnya. Kawasan ini hampir 24 jam sehari terus berdenyut dan bergerak tidak ada matinya. Oleh sebab itu air, listrik, telepon, sebagai kebutuhan utama ditangani sendiri oleh pihak pengelola kawasan industri. Tak heran di Batamindo Muka Kuning ini jarang sekali mati lampu dan mati air. Selama 2 tahun tinggal di sana hanya sekali saja terjadi pemadaman air. 

Karena krisis moneter berkepanjangan dan demi menghemat biaya operasional, perusahaan tempat dimana saya bekerja kemudian pindah ke kawasan industri lain yang biayanya lebih murah. Dengan begitu saya dan teman-teman rekrutan pun ikut pindah dan diberi fasilitas sewa rumah oleh perusahaan. Sebagian besar yang tidak mau ikut pindah mereka berhenti bekerja dan pulang kampung. 

Bertahun-tahun kemudian fasilitas rumah dari perusahaan diganti menjadi uang. Kami pun mencari rumah sendiri dan Alhamdulillah bahkan sudah bisa menempati rumah sendiri. Hingga sekarang saya masih bekerja di perusahaan yang sama. Sudah menikah dan

1 comment:

cicifera said...

masyaAllah.. sama kita mbak, saya juga merantau ke Jakarta saat SMA, nyebrang dari bawah sumatera, hehe.. terimakasih sharing tulisannya, jadi inget masa-masa jadi anak perantauan :D