Thursday, 6 August 2020

Hati-Hati atas Persepsi Diri dalam Menilai Orang Lain

Angkutan umum itu melaju kencang di jalanan yang beraspal mulus namun penuh tikungan dan belokan. Pohon pinus dan cemara gunung tampak bergantian, berlarian di balik kaca kendaraan. Bukit-bukit yang gersang tanpa pepohonan, tampak memerah terbakar matahari. Nun jauh di depan sana hamparan Danau Toba membentang berselimut awan tebal yang menutupi permukaan, seakan masih kedinginan meskipun siang sudah menjelang.

Sepanjang perjalanan itu, saya terus terkesima. Ingin rasanya berhenti untuk berfoto di berbagai latar alam yang beragam. Perbukitan, lembah, hamparan pesawahan, air terjun, kebun sayuran, dan juga lapangan rumput berikut hewan gembalaan.

Namun apalah daya, untuk berbicara membuka mulut saja saya takut. Selama ini yang saya dengar dan ketahui tentang sopir-sopir angkutan umum itu selalu galak, sangar dan tidak perduli kepada penumpang. Bagaimana mungkin saya berani meminta sesuatu hal yang dapat mengganggu konsentrasi dan mood saat ia menyetir.

Dari seluruh penumpang, dandanan saya dan seorang teman perjalanan justru yang paling menarik perhatian. Tak ayal kami jadi bahan tatapan keheranan para penumpang. Saya jadi salah tingkah. Melihat garis-garis wajah tegas dan keras yang terkesan sangar dari para penumpang juga tatapan tajam mereka kepda kami, hati pun mendadak ciut dibuatnya. Berbagai dugaan dan persepsi  negatif tentang stereotif orang Batak mulai hinggap di kepala.

Di keheningan perjalanan yang hanya terdengar suara mesin, sesekali terdengar gemeletak kerikil yang berloncatan tergilas ban kendaraan, tiba-tiba seorang ibu tua menyapa saya dengan ramah. “Mau kemana Nak?” Sapanya sambil tersenyum memamerkan giginya yang memerah oleh sirih yang sedang ia kunyah. "Kami mau mendaki Gunung Pusuk Buhit Bu." Jawab saya. “Berdua saja?” tanyanya lagi. “Iya Bu.” Mendengar jawaban saya, mendadak seluruh penumpang angkutan menjadi heboh. Selain bertanya-tanya apa alasan kami hendak mendaki Gunung Pusuk Buhit, mereka juga memberi saran dan menceritakan berbagai hal termasuk mitos dan legenda yang dimiliki oleh gunung ini. Sedikitnya saya dan teman perjalanan memperoleh gambaran seperti gunung yang akan kami daki ini.

Menariknya, ketika saya mengutarakan bahwa betapa indahnya pemandangan di depan sana dan betapa inginnya saya berhenti sebentar untuk memotret pemandangan, para penumpang kemudian bilang kepada sopir untuk berhenti sejenak dan membiarkan saya mengambil foto pemandangan Danau Toba dari jalan yang mengular merayapi gigiran tebing.

Masya Allah. Saya medadak terharu dan bersyukur. Betapa orang-orang di angkutan ini baik-baik dan penuh kehangatan. Jauh dari kesan yang saya duga sebelumnya. Jauh dari tampang sangar dan gurat-gurat  keras yang tampak di wajah mereka. Satu senyuman saja ternyata meuluhlantahkan praduga saya yang tidak berdasar ini.

Orang bilang kalau suku Batak itu keras. Tapi ternyata begitu saya berada di sana, di tanah Batak itu sendiri, semua terbantahkan sama sekali. Di sebuah pertigaan angkutan umum berhenti, si ibu beserta suaminya turun. Saya pun ikut turun sekadar untuk melepas penat setelah berjam-jam dalam perjalanan.

Rupanya, di sanalah suami istri ini turun dan akan ganti kendaraan untuk menuju ke kampung mereka. Saat berpamitan si ibu memeluk erat saya. Dia bilang anggap saja ia adalah ibu saya. Masya Allah terharu banget. Baru saja jumpa ia sudah mengangkat saya menjadi anaknya. Mendadak sedih sekaligus senang. Saya pun melambaikan tangan saat kami berpisah. Karena masih merasa tak percaya, saya bahkan lupa menanyakan nama dan alamat ibu ini. Padahal bisa saja saya cepat-cepat menyusul dan meminta alamat rumah dia. Namun kendaraan yang saya tumpangi sudah kembali melaju di jalanan berliku yang menyisir perbukitan di tepian Danau Toba.

Dari satu kisah ini saya belajar untuk tidak cepat menilai seseorang atau kelompok termasuk suatu suku dari stigma apa yang biasa orang ucapkan terhadap mereka. Saya bahkan malu dan merasa bersalah telah berfikiran buruk terhadap orang-orang yang membersamai kami di dalam angkutan termasuk Pak sopir yang ternyata biarpun berwajah garang namun ia sangat baik hati. 

25 comments:

nchie hanie said...

Bener banget Mak, terkadang kita ga bisa menilai orang hanya dari luaran sajaa.
Ku punya cerita juga, saat jalan ke Medan sendirian, trus nyobain pake bentor, iya sih ngejalaninnya engga banget, ngebut, lampu merah bablas, kasar.

Huhuuu tapi yang bikin berkesan si abang bentor mengantarkan aku, membeli oleh2 dan nungguin aku saat mencari alamat dan menemui sahabatku yang lagi di Bui. Huhuu, berada di negeri yang mukanya garang2 tapi hatinya so sweet.

Diar Ronayu said...

Setuju banget. Don't judge people by the cover. Begitupun sebaliknya. Ada juga yg sama kita manis - manis di depan, tapi ngomongin juga di belakang *aiiihcurhat 🙈

Ade UFi said...

Yang bilang keras itu kan suku di pulau Jawa. Karena karakter mereka bertolak belakang dengan orang2 yang diluar pulau Jawa. Tapi kalau kita kenal lebih dalam semua org Indonesia itu baik2 dan ramah. Tergantung dr sikap kita juga di daerah tersebut ya, Mba.

nurul rahma said...

Wkwkwkw, bener deh masalah stigma ini ampun2 yak.
Karena kerap kali kita terjebak dlm persepsi ini.
Makasii sharing-nya Mak

Andiyani Achmad said...

asumsi itu gak baik ya, apalagi belum kenal orangnya, ngobrol juga enggak eh menilai orang hanya dari luarnya aja

Arenga Indonesia Palm Sugar said...

Persepsi kita terhadap orang lain datang dari "siapa kita' ya Mbak. Kaca mata yang kita gunakan, yang datang dari pengalaman hidup dan orang-orang yang kita gauli akrab. Nah ketika sampai diuji coba dilapangan, persepsi itu bisa salah semua. Makanya emang kita harus banyak "piknik", bertemu dengan orang yang latar belakangnya beda sama sekali dengan kita. Itu akan membuka cakrawala baru. Dan saya pun sering mengalami seperti yang Mbak Lina alami :)

Mugniar said...

masya Allah terharu membacanya, Mbak ... memang benar kalau kata orang keras, sebenarnya ada beragam watak di dalamnya. Orang Batak dan kami di Makassar mirip, kata orang "keras" ada malah yang bilang "kasa" wkwkwk. Tapi pada dasarnya mau di mana pun itu, semua suku orang2nya punya beragam tabiat. Nice share, Mbak.

Suciarti Wahyuningtyas (Chichie) said...

Bener ini kadang tanpa disadari kita suka membuat persepsi sendiri mengenai orang lain. Aku jadi ingat waktu jaman ngantor, karena atasanku orang sumetera dan kalau ngomong kenceng banget. Lalu salah satu temanku yang orang sumetera juga mengira aku diomelin.

bundayati.com said...

Kebayang sih ya gemes dlm hati Lina melihat indahnya pemandangan sepanjsng perjalanan tapi gak bisa membidiknya utk kenang2an. Tp siapa yg menyangka Allah telah mendengarisi hati umatNya dan terjafilah apa yg fiinginkan serta terhapus semua perkiraan tentang sikap mereka yg diluar dugaan ternyata berlawanan dengan kehawatiran yg terselip dlm hati. Betul juga ada pepatah yg berbunyi "don't judge the book by its cover" hehe...sama juga kira2 "tak kenal maka tak sayang." Seperti ibu yg tak dikenal ternyata begitu hangat mendekap.

andyhardiyanti said...

Bener yaa mbak..ini seperti pembahasannya praktisi mindfulness, Adjie Santosoputro yang saya tonton kapan hari. Kita tuh selalu punya keinginan untuk memastikan yang tidak pasti. Salah satunya ya begini, terlalu sibuk dengan persepsi diri dalam menilai orang lain.

Uniek Kaswarganti said...

Benar-benar berlaku ya mba rupanya wise word Don't judge the book by its cover. Kitanya udah serem aja lihat penampilan sangar orang lain, ternyata orangnya baik gitu.
Yang menyenangkan dari suatu perjalanan tuh saat mengalami kejadian seperti yang Mb Lina ceritakan ini ya. Memperkaya hati sanubari kita dengan cinta kasih dan respect pada sesama manusia.

Yurmawita said...

Hehe sama pengalaman kita Mak, akupun pernah begitu. Kadang kita perlu juga memproteksi diri dari orang asing, namun mata hati kita masih dangkal menilai orang dari apa yang kita lihat

Dian Restu Agustina said...

Jadi kangen dengan wajah-wajah keras tapi lugas pun berhati lembut.Orang-orangnya justru jujur, enggak ada yang ditutupi, A bilang A, B bilang B....5 tahun tinggal di Sumatera Utara, saya banyak mengenal karakter warga aslinya, dan kagum seperti yang dituliskan di cerita ini

lendyagasshi said...

Sering banget niih...hati ini menilai dari luarnya saja. Tiba-tiba sudah merasa alergi untuk memulai. Padahal setelah kenal, barulah kita bisa menyimpulkan kepribadian seseorang tersebut yaa, kak..

Rach Alida Bahaweres said...

nah selama ini yang terlihat dan mudah dinilai emang tampilan luarnya saja sih ya mba. Tapi moga kita nggak gegabah bilang

Lisdha said...

10 tahun tinggal di Sumatera Utara makin membuka persepsi saya tentang "stereotype". Kita udah menilai orang berdasarkan stereotype ya kan?
Kalau sedang bercanda2 dengan teman Batak yang menyebut diri mereka "kasar", saya sering bilang : "harusnya malah hati2 sama orang Jawa, tampak lembut tapi bisa menusuk dari belakang," hahahaha...
Nah ini juga stereotype yang telanjur kental :)

Kacamata Hani (Hani S.) said...

Wkwkwk, aku dulu sempat takut dan menghindari orang yg kuanggap galak dan kasar, ternyata disaat aku perlu bantuan yg darurat, eh orang itu nolongin dengan sopan santun yang terjaga. Huhu, malu banget atas penilaianku yang salah itu. Sampai sekarang kami masih berhubungan baik Alhamdulillah.

HM Zwan said...

Hahahaha berkah ya mbk, curhat di angkutan umum jadinya dikadih bonus foto foto. Kadang kebiasaan menilai dari luarnya saja, padahal kebalikannya

diahagustina65.com said...

Setuju banget mbak, kadang kita lihat sesuatu itu dari luarnya aja. Bahkan aku masih belajar untuk tidak melakukan hal seperti itu

Aswinda Utari said...

Tetangga sy orang batak mba. Alhamdulillah ramaaah sekali. Bahkan tiap hari suka nyapu halaman depan rumah sy. Saya jd malu kadang. Haha. Bener sih setuju sm mba. Jgn menilai dg sekali pandang saja.

Milda Ini said...

Thank for your reminder. I am learning one from your blogpost. Is great full meaning for me

Aprillia Ekasari said...

Yang namanya manusia punya beragam karakter. Kadang sbnrnya dugaan2 itu muncul kek stereotype gtu ya. Pdhl kan tak kenal maka tak sayang. Makanya kyknya gak bisa menilai seseorang hanya dr perjumpaan pertama aja #imho

Nathalia Diana Pitaloka said...

Bacanya jadi ikut terharu, huhuhu... Senang banget pasti rasanya diperlakukan dengan ramah oleh masyarakat setempat...

diane said...

Seneng dan lega ya kalo ternyata yang gak sesuai dengan persepsi kita adalah hal baik..

Helenamantra said...

Aku menikmati penuturanmu, mbak, sambil membayangkan indahnya perjalanan di dekat Danau Toba.
Btw, don't judge the book by katanya ... katanya ... hehehe