Monday, 10 August 2020

Bagaimana Memandang Adil Porsi Rejeki?

Para orang tua dulu selalu bilang bahwa rejeki itu tidak akan tertukar. Hal ini tentu akan memberikan pengaruh pemikiran kepada anak-anaknya sehingga tidak bersedih dan putus asa jika sudah bersungguh-sungguh berusaha untuk meraih rejeki, namun tidak jua mendapatkannya. Pepatah orang tua kita dahulu ini juga memberikan kerangka pemikiran positif sehingga seseorang tidak mudah iri dengki terhadap rejeki yang telah dikaruniakan kepada orang lain.

Bersikap lapang dada dan mau menerima sekecil apapun rejeki yang telah dianugerahkan kepada kita adalah salah satu perilaku sabar yang disukai oleh Allah SWT. Di samping ia tetap berusaha mencari karunia dari Sang Pencipta tanpa putus asa.

Salah satu contoh rejeki yang dikaruniakan berbeda-beda dan kami dapat menerimanya dengan mudah dan lapang dada adalah perbedaan gaji yang diterima di tempat saya bekerja.  Di tempat kerja kami terdiri dari dua gedung sebut saja gedung 1 dan gedung 2. Karyawan-karyawan yang bekerja di kedua gedung ini berbeda dari cara berpakaian dan perlakuan ketika memasuki ruang kerja.

Ketika memulai pekerjaan, karyawan-karyawan di Gedung 1 mengenakan pakaian seragam, sepatu khusus di dalam ruangan, mengenakan masker, dan sarung tangan karet. Sedangkan di Gedung 2 karyawan-karyawan yang memasuki area kerja setelah mengenakan seragam  biasa mereka harus melapisinya dengan jumpsuit (mirip pakaian APD para petugas kesehatan di masa pandemi Corona), lalu mengenakan sepatu booties selutut, masker, sarung tangan, baru bisa memasuki ruangan kerja yang kesterilannya juga harus terjaga.

Untuk jam kerja sebenarnya hanya 8 jam sehari, namun Gedung 2 biasanya terdapat lembur atau overtime karena berbagai pertimbangan produksi dan permintaan dari pelanggan. Hal ini tentu saja berpengaruh terhadap pendapatan para karyawan. Mereka yang lembur (pulang malam) tentu pendapatannya tidak sama dengan mereka yang pulang sore (8 jam kerja saja). 

Lembur sebenarnya merupakan sesuatu yang diharapkan oleh para karyawan untuk menambah pundi-pundi pendapatan sehingga tidak menerima gaji basic terus-menerus. Namun tentu sudah disebutkan di atas bahwa rejeki tidak akan ada yang tertukar. Para karyawan yang tidak lembur sadar bahwa ada saatnya mereka lembur ada saatnya mereka bekerja normal terus-menerus seperti biasa. Sehingga dalam kondisi perbedaan jam lembur mereka secara sadar menerima kenyataan bahwa rejeki memang berbeda-beda.

Lalu bagaimana caranya kita memandang secara adil bahwa rejeki itu sudah ada porsinya masing-masing? Sebagai orang yang beriman, tentu kita percaya bahwa Allah SWT telah menjamin rejeki setiap makhluknya. Untuk itu kita tidak perlu resah dan gelisah mengenai masalah rejeki. Yang wajib kita lakukan hanyalah berikhtiar menjemput rejeki itu datang.Sebagaimana firman-Nya di dalam Al Qur'an:

Dan tidak ada satupun makhluk bergerak (bernyawa) di muka bumi melainkan semuanya telah dijamin rezekinya oleh Allah. Dia mengetahui tempat kediaman dan tempat penyimpanannya. Semua itu (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh). – (Q.S Hud: 6)

Begitupun jika kita sudah berikhtiar kemudian tidak mendapatkan rejeki sesuai yang diinginkan, maka kita harus tetap yakin bahwa Allah SWT memang menghendaki rejeki kita porsinya hanya sebatas itu. Sebagaimana firman-Nya:

Katakanlah, “Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki dan membatasinya bagi siapa yang Dia kehendaki di antara para hamba-Nya.” Dan apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya. Dan Dia lah pemberi rezeki yang terbaik. – (Q.S Saba: 39)

Oleh sebab itu hendaklah kita bersabar, ikhlas, dan menerima rejeki yang telah dianugerahkan seberapa besar kecilnya. Dan menurut petikan ayat di atas, Allah SWT akan mengganti apa saja yang kita infakkan. Maka jika ingin mendapatkan rejeki terbaik dari-Nya hendaklah banyak-banyak berinfak.

Walloohualam.

1 comment:

Mugniar said...

Benar Mbak ... sebagai muslim, kita harus meyakini ini
Dan tidak ada satupun makhluk bergerak (bernyawa) di muka bumi melainkan semuanya telah dijamin rezekinya oleh Allah. Dia mengetahui tempat kediaman dan tempat penyimpanannya. Semua itu (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh). – (Q.S Hud: 6)

In syaa Allah kalau memang berusaha ...ada saja rezeki ya Mbak.