Labels

Monday, 20 July 2020

Salah Kaprah Masyarakat dalam Mengartikan New Normal

Era New Normal, baru saja dimulai. Hal ini merupakan solusi sementara dari pemerintah untuk menggerakkan sektor ekonomi agar tidak mati suri selama pandemi virus corona yang masih berlangsung entah sampai kapan. Penyebaran yang masif membuat semua provinsi harus tetap waspada dengan wabah yang merebak melalui saluran pernafasan tersebut.

Salah Kaprah Masyarakat Mengartikan New Normal


Untuk Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) sendiri, beberapa kabupaten yang jauh dari pusat kota seperti Natuna dan Anambas tidak ada kasus sama sekali. Per tanggal 18 Juli 2020 kemarin, Kabupaten Lingga hanya 1 orang dan pasien ini pun meninggal. Lalu Kabupaten Karimun terdapat 6 orang pasien dan keenam-enamnya dinyatakan sembuh. Kemudian Kabupaten Bintan 8 orang, 7 sembuh 1 orang meninggal. Sementara itu Kota Tanjungpinang 29 orang dengan 24 sembuh, 3 meninggal dan 2 kasus aktif. 

Adapun untuk Kota Batam dimana tempat saya tinggal, merupakan wilayah dengan kasus penyebaran covid-19 terbesar yakni sebanyak 268 kasus dengan 231 sembuh, 11 meninggal dan 26 kasus aktif. Tingginya penyebaran di Kota Batam, membuat sebagian besar warga Batam sadar dengan menerapkan pola hidup sesuai anjuran pemerintah mengikuti Protokol Kesehatan dimana selalu mengenakan masker jika keluar rumah, menjaga jarak dan selalu mencuci tangan. Kebiasaan baru yang harus diterapkan yang merupakan bagian dari keseharian hidup di era New Normal ini.

Namun, tentu tidak semua lapis masyarakat patuh. Ada saja yang mengartikan New Normal ini dengan hidup normal seperti sebelum pandemi terjadi. Saya masih sering melihat beberapa orang melenggang dengan bebas di luaran tanpa mengenakan masker. Ada banyak yang berkerumun, berkumpul dan tidak menjaga jarak. Ada juga beberapa tempat yang tidak menyediakan tempat cuci tangan sehingga pengunjung sangat beresiko. Jadi gemes rasanya. Cuma bisa berdoa dalam hati semoga kota kami segera pulih dan tidak ada lagi kasus baru. 

Karena siklus hidup saya beberapa bulan terkhir hanya sebatas rumah dan tempat kerja, jadi area-area sekitar rumah dan tempat kerja yang dilewati saja yang biasa saya amati. Di masa New Normal ini, baru dua kali bepergian ke luar dari jalur rumah dan tempat kerja. Satu kali pergi ke bank dan satu kali lagi pergi ke pantai untuk bertamasya. 

Dari yang saya amati, di kawasan sekitar bank yang saya datangi, semua pengunjung bank dan kantor lainnya sudah dengan sadar diri baik orang tua maupun anak-anak mengenakan masker. Di depan kantor-kantor terdapat tempat untuk mencuci tangan. Saya sempat pindah dari bank satu ke bank lainnya dan sempat kelupaan untuk mencuci tangan di bank kedua. Sebelum masuk, petugas keamanan sudah mengingatkan bahwa saya harus mencuci tangan. Alhamdulillah ternyata di saat lupa seperti itu diingatkan.

Area yang bisa saya lalui antara rumah dan tempat kerja adalah pasar. Di pasar, pelanggaran Protokol Kesehatan ini kerap terjadi. Bahkan jauh sebelum New Normal diterapkan, para pedagang dan beberapa pengunjung banyak yang tidak menggunakan masker. Padahal pasar merupakan lokasi yang sangat rentan terkena penyebaran Covid-19. Karena itu saya sangat menghindari pasar dalam beberapa bulan terakhir. Jika tidak bisa mengingatkan orang lain, minimal saya mengingatkan diri sendiri untuk menjauh dari sana.

Mengadaptasi dan menerapkan Protokol Kesehatan dalam keseharian kita memang tidaklah mudah. Namun perlindungan kesehatan masyarakat harus dilakukan oleh semua komponen sehingga penularan dapat terhindari dan dicegah dengan segera. 

No comments: