Labels

Sunday, 28 June 2020

Merelakan dan Berdamai dengan Diri Sendiri

Ada banyak keinginan yang berbuah kekecewaan. Ada banyak harapan yang berakhir keputusasaan. Pun ada banyak rencana yang berujung kegagalan. Adalah sebuah kewajaran jika dalam perjalanan kehidupan ini saya, anda dan mereka, menemukan tantangan, hambatan dan ujian. Yang perlu kita lakukan adalah terus berjalan sambil menggenggam harapan, mendekap keinginan dan melangkah dalam rencana-rencana yang dibuat agar menjadi kenyataan.

Berdamai dengan Diri Sendiri
Berdamai dengan diri sendiri


Adalah kita yang seharusnya berkaca. Memperhatikan mata dan mulut dikala berbicara. Bukan menuduh mereka yang telah menggagalkan rencana. Adalah kita yang sebaiknya mengkaji diri. Memaafkan diri sendiri dan berdamai dengan segala kegagalan, keterpurukan serta ketidakberhasilan.

Dulu, semasa lulus SMA, ada banyak rencana dan keinginan yang tergambar imaginer di langit-langit rumah. Saya mendambakan masuk perguruan tinggi negeri, kuliah di universitas bergengsi dan menempuh hari-hari perkuliahan dengan bahagia, masuk ke komunitas mapala kampus dan pergi mendaki unung bersama teman-teman kuliah. 

Namun, rencana tinggal wacana. Keinginan untuk berkuliah itu terhalang oleh faktor ekonomi. Dan hal yang paling menyedihkan bagi saya adalah ketika Bapak meminta maaf  karena tidak mampu menyekolahkan saya ke perguruan tinggi. Bahkan beliau sampai bilang jika ada laki-laki yang hendak meminang,lebih baik saya menikah saja. Boleh menerimanya dan beri syarat bahwa dia harus mampu membiayai kuliah saya. 

Saat itu, saya sangat sedih dan tidak punya tempat untuk mnegadu. Benar-benar bersedih dan ingin rasanya menangis. Saya tidak marah kepada kedua orang tua saya. Saya mengerti mereka tidak mampu. Saya tidak marah dengan keadaan dan kondisi kami yang pas-pasan. Namun, saya tetap membiarkan harapan agar tetap menyala. Menyimpan rapat-rapat keinginan kuliah itu untuk dibuka kembali di saat yang tepat. Saat itu saya merelakan diri untuk tidak berangkat kuliah tahun itu. Berharap tahun depan bisa menemukan solusi.

Setahun kemudian saya mendapatkan pekerjaan di Kota Batam, jauh di luar daerah. Jauh dari kampung halaman. Dan itu memang yang saya harapkan. Saya ingin keluar dan merantau ke tempat yang jauh. Di tahun ke-3 status saya di pekerjaan menjadi karyawan tetap. Artinya saya bisa bertahun-tahun bekerja tanpa takut habis atau putus kontrak. Karena sudah mempunyai uang sendiri, membiayai hidup sendiri, maka sayapun memberanikan diri untuk kuliah. Sebuah keinginan yang sudah terpatri di hati sejak saya kecil.

Jalan hidup memang tidak pernah disangka-sangka. Jika saja saya sempat kuliah di Jakarta atau Bogor atau di kota lainnya di Jawa Barat, mungkin jalan cerita hidup saya tentu akan berbeda. Walau saya yakin jalan hidup manapun yang saya tempuh, saya akan tetap berkuliah dan mendaki gunung.

Usia masih muda, bekerja dari hasil keringat sendiri, kuliah dengan biaya sendiri, jalan-jalan dan mendaki gunung dengan uang hasil jerih payah sendiri adalah sebuah pencapaian bagi saya. Pencapaian yang membahagiakan atas kesedihan dahulu. Atas kerelaan bersabar dan menangguhkan keinginan kuliah di masa lalu. 

Tahun 2006 saya di wisuda. Dan  hingga sekarang, masih menetap dan bekerja di Kota Batam. Menjalani hari-hari dengan penuh syukur kepada Allah SWt atas segala ke-Maha Pemurah-Nya. 

Merelakan apa yang tidak mampu kita lakukan, berdamai dengan diri sendiri, memaafkan diri yang terbatas ini lalu tetap berusaha memperbaiki keadaan adalah hal yang harus kita lakukan dikala terpuruk. Semoga saja, ketika ada seseorang di luar sana yang sedang membenci ketidakberdayaan dirinya, maka yang harus pertama kamu lakukan adalah memaafkan diri sendiri. Lalu berusaha lebih keras lagi karena di setiap usaha itu ada langkah demi langkah yang mendekati keberhasilan.



No comments: