Thursday, 4 June 2020

Menghadapi New Normal yang Tidak Normal di Kota Batam

Dari 102 daerah yang diizinkan new normal di Indonesia, Kota Batam dimana merupakan tempat tinggal saya dan keluarga, ternyata tidak termasuk di dalamnya. Hal ini disebabkan oleh kondisi Batam yang masih masuk ke dalam zona merah dan masih ada kenaikan pasien baik ODP maupun PDP.

New Normal Batam


Untuk Provinsi Kepri sendiri, yang sudah diperbolehkan memasuki era new normal hanyalah 3 kabupaten yakni Anambas, Lingga dan Natuna. Di ketiga wilayah ini, penyebaran covid-19 sangat minim bahkan nyaris tidak ada. Hal ini didukung oleh faktor mobilitas masyarakatnya yang rendah serta lokasi wilayah yang jauh dari kota-kota besar sehingga potensi penyebaran virus corona ini bisa dikendalikan dan diawasi dengan memutus beberapa jalur transportasi ke Batam, Bintan dan Tanjungpinang yang menjadi episentrum covid-19 di Kepri.

Menyongsong Pemberlakuan New Normal 

Hidup dalam pengertian new normal adalah hidup sesuai protokol kesehatan untuk mencegah virus corona khususnya covid-19. Jika new normal diterapkan di Batam, apakah warga kota ini mampu beradaptasi dengan aturan tersebut? Apakah saya dan keluarga mampu beradaptasi? 

Adaptasi adalah cara bagaimana makhluk hidup mengatasi tekanan lingkungan sekitarnya untuk bertahan hidup. Dengan arti lain, makhluk hidup yang selamat adalah makhluk hidup yang mampu beradaptasi. Maka mau tidak mau, suka tidak suka siapapun yang berada di wilayah tersebut harus tunduk dengan protokol new normal dan beradaptasi dengan aturan-aturan yang harus diterapkan.

Bagi saya sendiri, jika new normal akan diterapkan di Batam dalam waktu dekat, tentu sangat tidak bermasalah karena pada aturan yang dijabarkan di dalam protokol kesehatan tersebut poin-poinnya sudah menjadi kebiasaan semenjak pandemi berlangsung dan bahkan ada poin-poin yang sebelum pandemi pun sudah terbiasa dilakukan setiap hari. 

Beberapa poin utama dalam aturan new normal adalah bahwa setiap orang harus mengenakan masker jika sedang keluar rumah atau bepergian dan juga bekerja. Beruntungnya, sejak pertama kali bekerja di Batam 21 tahun yang lalu, perusahaan sudah mewajibkan setiap karyawannya untuk mengenakan masker. Jadi tentu saja penggunaan masker bagi saya sudah biasa dan akan nyaman-nyaman saja. 

Poin lainnya dalam aturan new normal adalah pembiasaan mencuci tangan. Hal ini tentu tidak memberatkan karena banyak manfaat di dalamnya. Selain terbiasa mencuci tangan 5 kali sehari untuk berwudu menjelang salat, cuci tangan sebelum dan sesudah makan, cuci tangan sebelum dan sesudah memasak, cuci tangan lainnya yang baru dan mulai saya biasakan adalah cuci tangan setiap memasuki dan meninggalkan area perusahaan. Dan ternyata, hal ini juga dengan mudah kami lakukan karena sudah berlangsung sekitar 3 bulan. Dan jika dilanjutkan dalam bingkai new normal maka akan baik-baik saja. 

Poin dalam aturan new normal lainnya adalah menghindari kerumunan. Kami, sudah berdamai dengan poin ini selama 3,5 bulan. Tidak ada lagi kumpul-kumpul arisan, ngerumpi di cafe dan restoran, ngerumpi dengan tetangga samping rumah, ngerumpi di kantin perusahaan, meeting yang melibatkan orang banyak. Praktis semua itu sudah tidak lagi kami lakukan. Dan sebagai makhluk sosial, rasanya ini cobaan yang cukup berat bagi saya. Menghindari kumpul-kumpul dan kerumunan sementara saya suka sekali bertemu orang banyak dan berbicara di tengah-tengah mereka. 

Dan sebagai warga Batam yang suka jalan-jalan, sungguh rasanya sangat berat untuk tidak keliling mengunjungi tempat-tempat wisata dan tempat-tempat baru di Batam. Padahal bisa menjadi bahan tulisan di blog saya yang satunya lagi yaitu blog linasasmita.com yang mengulas seputar traveling, adventure, destinasi dan event pariwisata.

Selama masa pandemi ini, sektor pariwisata di Batam nyaris lumpuh. Semua destinasi wisata ditutup. Sektor perhotelan juga terguncang keras. Beberapa hotel yang masih beroperasi adalah hotel-hotel yang mempunyai tamu-tamu ekspatriat yang bekerja di sektor industri manufaktur dan galangan kapal. Beberapa di antara mereka adalah bos-bos di tempat kerja saya. Mereka warga negara Jepang dan Malaysia yang sudah menjadi penghuni tetap hotel selama bertahun-tahun.

Pada akhirnya, hidup setelah pandemi ini adalah hidup yang akan berbeda dengan hidup kita yang sebelumnya. Hidup yang tidak akan pernah sama lagi. Maka jika saya dan teman-teman mampu adaptif dengan hidup yang sekarang ini, maka kitalah yang akan bertahan hidup.

Salam






1 comment:

Agus Warteg said...

Kota Batam ternyata masuk zona merah juga ya mbak, semoga cepat berlalu virus Corona.

Untuk new normal disini juga sudah mulai, keluar rumah harus pakai masker dan karena aku jarang pakai masker agak sesak nafasnya tapi karena peraturan harus dipatuhi juga demi kebaikan bersama.😄😊

Merelakan dan Berdamai dengan Diri Sendiri

Ada banyak keinginan yang berbuah kekecewaan. Ada banyak harapan yang berakhir keputusasaan. Pun ada banyak rencana yang berujung kegagalan....