Thursday, 25 June 2020

Memuliakan Tamu dari Dunia Maya Malah Menjadi Tamu Terhormat di Dunia Nyata

Kisah ini adalah tentang pengalaman saya berhubungan dengan teman di dunia maya yang ternyata berbuah keberkahan dan kebaikan di dunia nyata. Saya selalu ingat sebuah nasihat untuk terus menjalin silaturahmi dan menghormati tamu. Kejadian ini terjadi pada tahun 2006 dimana pada waktu itu para blogger sedang seru-serunya ngeblog di platform Multiply. Selain Multiply waktu itu warganet sudah memanfaatkan fasilitas pertemanan via mailing list yahoogroups. Biasa disingkat milis saja.

Teman Dunia Maya
Saya dan teman-teman di Natuna


Adalah Mbak Lia asal Jogjakarta, teman ngeblog di Multiply yang juga sesama anggota milis di sebuah komunitas pegiat alam bebas Highcamp. Beliau sms saya dan mengabarkan akan berkunjung ke Batam dalam rangka bisnis. Sebenarnya saya akan sangat senang jika bisa menemui Mbak Lia. Selain ngeblog ia juga seorang perancang busana yang cukup terkenal di Jogja. Beberapa kali karya-karyanya pernah dipamerkan dan dikenakan oleh model-model ternama di Indonesia. Namun waktu itu saya sedang kerja masuk malam dan ini berarti jika saya menemui beliau, saya tidak akan tidur sepanjang siang sementara malamnya saya harus bekerja kembali. Selain itu saya belum pernah bertemu dengannya. Apa beliau dapat mengenali saya dan apakah akan secair di dunia maya?
Namun saya berpegang pada sebuah hadist untuk senantiasa memelihara silaturahmi dan memuliakan tamu. Jika berkunjung ke Batam, maka Mbak Lia adalah tamu saya dan saya harus memuliakannya dengan cara menemuinya. Sekaligus untuk bersilaturahmi.

Waktu itu Mbak Lia menginap di Hotel Vista. Karena tidak ada kendaraan umum yang melalui hotel tersebut, terpaksa saya naik taksi. Padahal saya sendiri sebagai anak kos sedang kekurangan. Mengeluarkan biaya taksi waktu itu setara dengan biaya makan selama 4 hari. Namun niat bersilaturahmi sudah bulat. Untuk urusan makan gimana nanti saja. Bismillah.

Ketika tiba di hotel, Mbak Lia sedang makan bersama beberapa pria. Saya kemudian diperkenalkan kepada seorang pria yang ternyata merupakan Bupati Natuna. Masya Allah, mimpi apa saya kemarin. Mbak Lia bilang, Bapak Bupati ini semasa kuliah dulu di Jogja beliau ngekos di rumahnya. Dan hari itu Mbak Lia mendapat undangan dari Pak Bupati untuk ke Natuna dan melihat-lihat peluang apa yang dapat dikembangkan dari kabupaten yang dikelilingi oleh lautan tersebut.

Mbak Lia lantas memperkenalkan saya kepadanya sebagai Pendaki Gunung. Pak Bupati tampak tertarik. Beliau bertanya apakah saya tahu kalau di Natuna ada gunung dan apakah saya mau jika diajak mendaki gunung di sana? Saya terbengong-bengong. Apakah serius?

"Yang betul Pak?"

"Kapan berangkatnya?"

"Sekarang juga!" Kata beliau. Saya masih tak percaya.

"Lalu pakaian saya bagaimana?"

"Beli di sana banyak!" Jawabnya. Ya Allah. Saya mendadak gemetaran.

Karena sudah tidak ada waktu lagi, saat itu juga kami langsung menuju Bandara Hang Nadim Batam. Sayangnya, ketika hendak membeli tiket tambahan untuk saya, sudah tidak ada. Semua tiket penerbangan ke Natuna jam itu dan hari itu sudah habis. Saya kira bakal batal. Tidak apa-apa kalau bukan rejeki saya. Namun ternyata Pak Bupati dan Mbak Lia tetap merencanakan keberangkatan saya ke minggu depan. Kali ini malah ditambah dengan teman-teman satu komunitas kami yang kebanyakan dari Jakarta.

Saya pun akhirnya bisa pulang dan malah tidak bisa tidur saking kagetnya. Atau saking senangnya. Natuna? Naik gunung? Wow Masya Allah, Alhamdulillah. Tak henti-hentinya saya berucap syukur. Apakah ini balasan langsung dari Allah SWT karena saya ingin menghormati tamu dunia maya saya? Wallohualam.

Mbak Lia kemudian menelpon teman-teman dari komunitas kami yang lainnya. Mereka adalah Bang Hendri, Bang Ori, Handrian, Wisnu dan Vino. Mereka adalah para pendaki gunung yang sudah kawakan dan juga menguasai olahraga panjat tebing.

Singkat cerita, minggu berikutnya kami sudah berkumpul dan bertemu di Batam. Ketika waktu keberangkatan tiba, tidak ada penerbangan dari Bandara Hang Nadim dan saat itu tiket belum bisa online jadi harus beli langsung di bandara. Karena dari Batam sudah tidak ada jadwal pesawat, kami akhirnya menuju Tanjungpinang dan menginap di sana satu malam karena jadwal pesawat ke Natuna keesokan harinya.

Saat kami sudah terbang dengan pesawat tersebut keesokan harinya, ternyata pesawat tersebut balik lagi ke Batam untuk transit. Ya Allah sungguh melelahkan. Dan habis waktu di jalan saja. Namun akhirnya kami dapat terbang dan tiba dengan selamat di Natuna.

Selama di Natuna, setelah mendaki Gunung Ranai, kami jalan-jalan ke pantai-pantai Natuna yang indah dengan hamparan bebatuan raksasa. Di Natuna kami dijamu secara istimewa sebagai tamu Pak Bupati. Penghormatannya kepada tamu meskipun kami ini hanyalah warga biasa sungguh membuat kami tersanjung.

Persis, seperti selentingan dari penduduk Natuna, bahwa Pak Bupati ini orangnya dermawan, benar saja, sesaat sebelum pulang kami diberi sagu hati sebagai hadiah karena menjadi tamu beliau. Masya Allah Pak Bupati ini dermawan sekali. Beliau juga bilang bahwa hadiah tersebut murni darinya bukan hasil uang korupsi hehe. Iya Pak.

Apa yang saya petik dari pengalaman yang satu ini? Niat bersilaturahmi, menghormati tamu ternyata membawa keberkahan yang besar dan banyak. Tak pernah menyangka sedikitpun bisa berangkat ke Natuna dan itu gratis. Saya pun pulang tidak dengan tangan kosong. Ada rejeki yang diberikan Pak Bupati yang ternyata sangat berguna bagi kehidupan anak kos ini hingga bisa bertahan sebulan kemudian. Hingga gajian bulan berikutnya tiba. Bahkan masih tersisa lebih. Alhamdulillah.

No comments:

Merelakan dan Berdamai dengan Diri Sendiri

Ada banyak keinginan yang berbuah kekecewaan. Ada banyak harapan yang berakhir keputusasaan. Pun ada banyak rencana yang berujung kegagalan....