Sunday, 21 June 2020

Membuat Warung Hidup dan Apotik Hidup di Halaman Rumah

Saya dan suami adalah orang-orang yang menyukai tanaman dan mendamba memiliki taman hijau di depan rumah. Sebatas suka saja tanpa usaha untuk menanam lebih banyak dan lebih efektif. Suami sering berharap saya yang mulai melakukan duluan sementara saya malah menunggu-nunggu suami membeli tanah hitam untuk ditempatkan di pot atau wadah tanam. Karena saling menunggu itulah keinginan kami lama belum juga terwujud.

Warung Hidup dan Apotik Hidup
Bunga rambat di dalam pot di depan rumah

Di Batam, tanahnya tidak begitu subur. Sebagian besar tanah di sini berwarna kemerahan karena mengandung bauksit. Oleh sebab itu, kebanyakan cara menanam bunga atau tanaman lainnya adalah dengan membeli tanah hitam terlebih dahulu di tempat jual bunga yang ada di pinggir-pinggir jalan. Biasanya satu karung seharga  Rp 10.000. Atau jika mau gratis, bisa saja mengambil tanah permukaan di hutan-hutan di sekitar Batam yang tak jauh dari tempat tinggal masing-masing.

Tanah hitam digunakan sebagai media dan pemancing pertumbuhan yang baik sehingga tanaman dapat segera tumbuh dengan sehat. Setelah tanaman cukup kuat dan tinggi, maka kemudian dapat ditempatkan di tanah bauksit atau tetap di dalam potnya. Kalau sudah cukup besar begitu, jika dipindahkan ke tanah bauksit pun tidak terlalu kesulitan untuk tumbuh asal ia sudah beradaptasi dan mendapatkan air yang cukup.


Mulai Menanam untuk Warung Hidup dan Apotik Hidup


Membuat halaman hijau yang menyejukkan mata hanyalah wacana jika saja tidak segera dikerjakan. Karena saya sendiri, jika ada waktu luang di rumah lebih memilih menghabiskannya untuk ngeblog jadi tidak punya kesempatan yang banyak untuk merawat tanaman. (Ternyata alasan ini tidak berpengaruh setelah saya memulainya haha. Mungkin pernyataan itu hanya bersifat permisif saja).

Warung Hidup dan Apotik Hidup
Cabe ungu kalau matang tetap merah

Warung Hidup dan Apotik Hidup
Lidah Buaya
Warung Hidup dan Apotik Hidup
Singkong di depan rumah

 
Suatu hari suami bilang, "Bunda nih katanya suka tanaman tapi mana nggak nanam-nanam." Dalam hati saya agak kesal sih dan langsung saja saya jawab, "kalau ayah suka nanam-nanam, kenapa nggak memulainya terlebih dahulu? Jangan berharap orang lain yang melakukan." Eh kenapa jadi ngegas ya sayanya? Haha. 

Karena merasa nggak enak hati, di saat libur akhir pekan, saya pun pelan-pelan satu per satu menanam apa aja yang bisa ditanam di halaman dengan menggunakan pot bunga dari bekas wadah cat dan botol air mineral. Botol-botol itu saya potong agak rendah dan bagian bawahnya saya bolongi untuk jalan air keluar. 

Saya juga membeli tanah hitam dari penjual bunga di pinggir jalan di perumahan sebelah. Bela-belain dengan naik gojek. Hari itu juga saya kerjakan saking semangatnya. Beberapa hari kemudian tunas-tunas baik bunga, buah maupun palawija yang saya tanam mulai tumbuh. Meskipun terbilang masih kecil-kecil dan hanya tumbuh beberapa sentimeter saja, saya sudah bahagia. 

Mungkin karena melihat effort saya membuat pot bunga dari bahan-bahan bekas, suatu hari suami dengan membeli banyak pot bunga. Duuh tau gitu saya sering-sering deh mancing-mancing begini ya biar dibelikan lebih banyak lagi pot bunga. 

Melihat halaman sudah menghijau itu rasanya mata sangat nyaman, teduh dan segar. Di halaman rumah kami, selain ditanami berbagai jenis bunga, ada tanaman lainnya seperti cincau, mangga, pepaya, jeruk, singkong, jahe, cabe, sereh, kecipir dan kencur. Selain mangga, tanaman lainnya rata-rata baru tumbuh sekitar sepuluh hingga tiga puluh sentimeter. Sementara itu saya juga sudah panen cabe rawit ungu tiga kali, meskipun cuma punya satu pohon.  Semua itu tetap membuat saya senang dan gembira.

Ke depannya, berharap tanaman-tanaman ini dapat tumbuh subur dan terus menumbuhkan tunas-tunas baru agar halaman kami semakin hijau dan menyejukkan pemandangan. Lumayan bisa menjadi obat penenag dikala pandemi corona.

No comments:

Merelakan dan Berdamai dengan Diri Sendiri

Ada banyak keinginan yang berbuah kekecewaan. Ada banyak harapan yang berakhir keputusasaan. Pun ada banyak rencana yang berujung kegagalan....