Labels

Tuesday, 30 June 2020

Barang-Barang Impian saat Masa Kecil

Dilahirkan dari keluarga yang biasa-biasa saja atau lebih tepatnya pas-pasan, membuat saya dan saudara-saudara tidak bisa bebas seenaknya meminta apapun yang diinginkan kepada kedua orang tua. Termasuk mainan atau buku cerita. Bersyukurnya walaupun demikian, di rumah selalu banyak mainan yang bisa bapak buatkan untuk kami. Beliau tidak bisa membelikan, namun berusaha membuatkan.

Barang-Barang Impian Masa Kecil


Untuk segi keuangan, Ibu dan bapak biasanya akan memilah pengeluaran sesuai kebutuhan. Hal-hal kecil yang tidak menyangkut kebutuhan pokok untuk hidup seperti mainan, tentu kurang menjadi prioritas mereka. Apalagi waktu itu kami 5 bersaudara (adik ke-6 belum lahir) dengan jarak kelahiran yang berbeda 2 hingga 3 tahun membuat kebutuhan untuk makan dan pendidikan menjadi prioritas utama. 

Ada banyak hal yang saya inginkan sejak kecil namun tidak terpenuhi pada saat itu. Saya pun tahu diri dengan tidak banyak meminta ini itu kepada ibu dan bapak. Keinginan-keinginan itu saya simpan dan bungkus rapi dalam ingatan dan berharap jika suatu hari nanti, saat sudah besar dan mempunyai penghasilan sendiri saya akan memilikinya. 

Beberapa keinginan masa kecil yang sangat ingin saya punyai diantaranya adalah ingin sekali memmiliki radio. Di rumah, waktu itu kami tidak mempunyai televisi. Hiburan kami saat itu hanyalah radio. Drama-drama dan dongeng-dongeng di radio sangat dekat dan lekat dalam ingatan. Begitu juga lagu-lagu yang diputar hampir semuanya kami hafal. Kisah Tutur Tinular, Drama Saur Sepuh, dongeng Sunda Mang Jaya dan Uwa Kepoh sangat mempengaruhi dan memperkaya kosa kata Bahasa Indonesia dan Bahasa Sunda kami secara bersamaan. 

Tak heran sewaktu SMA dan bersekolah di Jakarta, kecintaan kepada radio dan dunia siaran sempat membawa saya menjadi seorang penyiar radio amatir di Karang Taruna daerah Cilandak, Jakarta Selatan. Di sana, saya seakan menemukan dunia yang sungguh saya idam-idamkan dahulu. Meskipun saya belum punya radio sendiri tapi setidaknya saya sudah pernah menjadi penyiar radio meskipun di radio amatir. 

Sewaktu kecil saya juga mendambakan sepeda. Rasanya keren banget bisa jalan-jalan menggunakan sepeda dari kampung ke kampung. Atau setidaknya saat berangkat sekolah, tidak perlu jauh-jauh jalan kaki atau menghabiskan uang jajan untuk naik angkutan umum. Dengan adanya sepeda saya bisa bersepeda sekaligus menghemat pengeluaran. Sayang keinginan ini pun tidak pernah tercapai saat itu. 

Saat masih SMP, jarak perjalanan dari rumah menuju sekolah melalui sawah dan kampung-kampung sekitar 5 kilometer. Jarak yang lumayan jauh untuk ukuran anak SMP seperti saya. Ini berarti pulang-pergi saya berjalan sejauh 10 kilometer selama 3 tahun. Namun saat itu saya merasa wajar dibanding teman-teman lainnya yang dari kampung di dekat gunung yang malah berjalan ke sekolah lebih dari 5 kilomeeter. 

Benda lainnya yang ingin saya punya adalah kamera dan gitar. Kenapa kamera? Karena saya suka sekali dengan pemandangan alam dan ingin selalu menyimpan kenang-kenangan dari setiap perjalanan melalui foto. Maka saya sangat ingin memiliki kamera. Sementara untuk gitar karena saya merasa bahwa orang yang bermain gitar itu sungguh keren. Tidak ada kata lainnya selain keren. Udah itu saja. Sehingga keinginan mempunyai gitar itu lebih besar kadarnya jika dibandingkan dengan keepat barang lainnya yang saya inginkan sebelum itu.

Keempat barang yang saya sebutkan di atas, sungguh menjadi impian saya sejak SD dan SMP. Namun terkadang lupa dan tidak diingat sama sekali hingga bertahun-tahun kemudian, di saat saya sudah bekerja dan mempunyai penghasilan sendiri, barang-barang yang saya impikan dahulu ini perlahan hadir di kehidupan saya satu per satu. Ketika sudah memiliki semuanya, saya baru tersadar bahwa barang-barang ini dibeli mungkin karena jauh di alam bawah sadar saya ada yang menggerakkan. Mungkin saja kenangan atau mungkin juga mimpi yang terpendam. Alhamdulillah.


No comments: