Trik Agar Tidak Diusir dari Cafe saat Numpang Kerja

Menulis atau ngeblog di rumah kadang adaaaa saja gangguannya. Tiba-tiba anak minta inilah itulah. Tiba-tiba tetangga datang, tiba-tiba lapar pengen masak. Dan gangguan lainnya yang bikin menulis nggak jadi-jadi. Maka solusinya ya lari ke cafe atau ke coworking space. Karena coworking space di kota kami letaknya jauh dari rumah, tinggal satu pilihan yakni cafe.



Ada banyak cafe di pelosok kecamatan tempat saya tinggal. Setiap jalan selalu ada beberapa cafe yang sudah berdiri. Hilang satu cafe akan tumbuh dua atau tiga cafe. Begitu terus sehingga tidak sulit untuk kongkow atau nongkrong ngopi sambil cari wifi gratisan.

Enaknya nongkrong di cafe, kalaupun harus bawa keluarga tetap semua asyik sendiri-sendiri haha. Suami dan anak saya pada anteng dengan gadgetnya. Sementara saya bisa lancar menulis tanpa diinterupsi oleh mereka kecuali pada saaat pesanan makanan datang.

Sejauh ini, walaupun makanan dan minuman sudah habis, belum pernah sekalipun kami diusir oleh petugas cafe. Dan belum ada pengalaman juga sih diusir secara halus oleh mereka. Hanya saja, kalau kelamaan justru saya yang nggak enak body. Masa sih sudah berjam-jam dan makanan sudah tandas kami tidak pesan lagi. Maka, kami mengakalinya dengan pesan kopi atau camilan ringan setelah semua makanan di meja bersih tak bersisa.

Pertanyaan selanjutnya adalah... apa triknya biar tidak diusir dari cafe secara halus?

Saya punya beberapa trik yang satu dua pernah diamalkan. hehe. Coba mana yang cocok bisa teman-teman terapkan.

1. Kenalan dengan Pegawai Cafe
Saya pernah juga sih sok-sokan pura-pura ngajak ngobrol pegawainya. Nanya ini itu lalu foto-foto dan bilang tertarik untuk menuliskan cafe tersebut di blog atau di Trip Advisor. Nah yang kayak gini biasanya mereka tetap baik sampai saya pulang dengan sendirinya. Hehe. Saat pulang memang betulan sih saya menuliskan review-nya.

2. Kenalan dengan Owner Cafe
Pernah suatu saat saya dan Chila nongkrong di cafe. Sementara saya sibuk di depan laptop, Chila anteng dengan tabletnya. Beberapa kali saya bolak-balik mengecek kondisi anak gadis kecil saya yang berbeda ruangan. Takut ia tiba-tiba menghilang begitu saja. Lama-lama ada bapak-bapak yang mulai curi-curi pandang seperti curiga kenapa saya mondar-mandir terus. Saya langsung nanya ke pegawainya ternyata memang Bapak yang ngelihatin saya itu owner cafenya. Saya pun menyapa dan berkenalan dengannya. Sekalian deh izin foto-foto dan meminta kartu nama. Syukur Alhamdulillah ternyata dia menyambut dengan senang hati.

3. Pilih Sudut yang Tersembunyi
Pilihlah lokasi atau tempat di sudut tersembunyi dari penglihatan orang-orang. Pegawai yang sibuk juga jarang ngeh kalau ada kita di sana karena tersembunyi. Jadi kita punya waktu luang untuk terus bekerja tanpa rasa terganggu dengan tatapan aneh bersemu mengusir dari para pegawai cafe. Tapi hati-hati jangan sampai kelewatan waktunya. Tahu-tahu pintu dikunci dari luar dan kamu kegelapan di dalam sampai keesokan harinya. Hiyy serem.

4. Bawa Modem Sendiri
Kadang ada saja orang nyinyir yang mengusik hidup kita dengan tatapan sinisnya. Nongkrong di cafe modal 15 rebu, onlinenya bisa 4 jam, bisiknya dalam hati. Maka jika kamu mampu mendengar bisikan atau suara hati lewat tatapan mereka itu, maka letakkan modem besar-besar di atas meja supaya orang tahu bahwa kita bawa wifi sendiri dan nggak ngandalin wifi gratisan dari cafe. Horang kayaaah. Kita cuma numpang duduk doang kok supaya menulis dengan tenang.

5. Bawa Teman yang Banyak untuk Nongkrong
Biasanya, pegawai cafe itu agak sungkan kalau mengusir halus banyak orang dalam satu meja. Lagian ya, di meja biasanya banyak makanan. Yang pesan akan silih berganti. Atau yang traktir juga kemungkinan akan lebih banyak. Tapi minusnya, kamu paling-paling nggak bakalan konsen kerja karena malah ikut ngerumpi atau nimbrung hal-hal yang lagi dibahas teman-teman. Siap-siap bawa headphone untuk meredam suara masuk ke telinga. Haha segitunya.

Nah begitu aja sih trik versi saya. Kalau teman-teman punya trik apa saja supaya tidak diusir secara halus dari cafe?

Comments