Ironi Kabut Asap dan Belantara Hutan yang Tergarap

Menanggapi situasi Indonesia yang kini sedang dilanda kabut asap, saya hanya mampu mengelus dada. Rasanya kesal, marah dan sedih namun tidak mampu berbuat apa-apa. Sebentuk kekecewaan ini saya tuangkan dalam puisi. Tidak bermakna apapun selain hanya ungkapan tentang kekesalan.

Puisi ini akan bertema tentang kabut asap. Sebentuk kecewa, ungkapan kekecewaan serta harapan di masa yang akan datang.




Ironi Kabut Asap dan Belantara Hutan yang Tergarap

Nanar mata menatap
Pada kampung dan kota yang terkepung asap
Pada langit yang tampak memucat 
Pada siang dan sore kami yang memekat

Tidakkah para pembakar punya nurani
Mengasihi hutan dan semua para penghuni
Yang terbakar, terdampar dan terkapar penuh ironi
Meregang nyawa meninggalkan alam badani

Wahai Tuan Sang Penguasa!
Tidakkah tuan terketuk rasa
Begitu banyak mahkluk yang binasa
Menyisakan tangis dan nelangsa yang sia-sia

Hari-hari kami jalani dengan penuh sesak
Menahan kesal dan tangis yang terisak
Meredam marah yang kian mendesak
Menatap hutan yang kian rusak

Kami hanya menggenggam secercah harapan 
Untuk dijemput di masa depan
Patutlah pula engkau hiraukan
Jika engkau makhluk Tuhan yang Dermawan

Bila hari kelak berganti
Dan musim kemarau makin mendekati
Hendaklah tuan berhati-hati
Segeralah bentuk tim yang berbakti

Comments

makassarbaik said…
Semoga kabut asapnya tak terulang lagi. Pemerintah harus belajar dari tahun-tahun sebelumnya. Kalau memang sengajar dibakar oleh pihak tertentu, pemerintah harus tegas.