Cara Menghentikan Bullying kepada Orang Lain



Di beberapa komunitas yang saya ikuti, terkadang ada saja satu dua orang yang memiliki sifat ajaib. Yang kerap membuat anggota komunitas lainnya tidak nyaman dan mengerutkan dahi. Seseorang yang akan menjadi bahan omongan di belakang grup, yang keanehan-keanehannya akan dirumpikan setiap kopdar. Yang karenanya, pembicaraan jadi asyik karena ghibah memang sulit dicegah. Mengalir begitu saja hingga semua aib-aibnya terkupas terkelupas secara rinci.



Bagi anggota komunitas yang tipe pemaaf, maka si orang yang memiliki sifat ajaib ini dianggap angin lalu saja, mereka dapat memaklumi. Namun bagi tipe pendendam, atau tipe iseng, atau tipe yang suka mencari-cari kesalahan orang lain, maka siap-siap saja untuk si tipe manusia ajaib ini akan di-bully habis-habisan. Di-bully secara verbal siang malam baik online maupun offline.

Pernah ada satu orang teman yang melakukan kesalahan sepele tidak menyapa teman-temannya yang baru datang di satu acara gathering. Mungkin dia sedang ada masalah atau lagi bad mood sehingga tidak sempat menyapa yang lain. Namun teman-temannya tidak terima dan menganggap dia sombong lalu mem-bully dengan cara menyindir-nyindirnya di grup. Yang lain yang tidak merasa, malah jadi ikut tersinggung. Namanya nyinyir di grup, ibarat satu yang ditembak ternyata yang tertembak kena semua. Saya merasa hal ini sudah tidak wajar lagi. Grup jadi tidak sehat karena penuh dengan nyinyiran.

Kesalahannya sepele, namun dendam berlanjut. Apapun yang dilakukannya selalu saja dibicarakan dan di-ghibahin. Sebelnya, saya jadi ikut terseret ke lingkaran itu lalu ikut-ikutan untuk tidak menyukainya. Karena merasa di-bully terus-terusan, maka dia pun menghilang dan jarang muncul di komunitas. Saya jadi curiga apa hal itu karena teman-teman lain suka menyindir dan nyinyir kepadanya.

Suatu saat saya merenung, kenapa saya tidak menyukai orang ini? Padahal dia tidak ada masalah dengan saya. Dia bermasalah dengan teman-teman saya. Lalu kenapa saya jadi tidak menyukainya dan cenderung ingin membuat dia terpojok? Dari sini saya menyadari bahwa saya terhasut. Ya, hasutan yang pelan-pelan dan tidak kelihatan. Ketika membaca tulisan orang lain yang tidak menyukai seseorang, menjelek-jelekkan seseorang, saya yang membacanya jadi turut menyetujui dan mengaminkan padahal belum tentu hal itu benar.

Perlahan saya mulai menjernihkan fikiran dengan tidak turut ikut campur jika orang lain mem-bully si teman ini. Terkadang saya memberikan pertanyaan yang memancing teman-teman yang tukang bully berfikir. "Kalau begitu memang kenapa? Toh tidak merugikan kamu kan?" Lalu menerangkan bahwa dia juga punya sisi baik. Selain itu menerangkan juga bahwa dia aneh mungkin saja karena melalui masa kecil atau masa remaja yang beda dengan kita. Mungkin masa lalunya perih atau ada luka lama sehingga tidak bisa sembuh dan membuat perilakunya agak beda dengan kita. Berusahalah melihat sisi baiknya. Berusahalah melihat sisi buruk kita.

Setiap teman-teman lain mem-bully-nya, saya berusaha untuk mencegah dan membelanya. Mengeluarkan berbagai nasihat yang ternyata ampuh untuk menggiring opini positif pada diri saya. Sekalian menasihati diri sendiri yang kadang sama juga dengan yang lain. Hobby ngomongin orang. Perlahan ternyata itu efektif. Teman-teman lainnya satu per satu berhenti mem-bully

Bersyukur, sekarang teman itu pun mulai muncul dan sering berinteraksi dengan kami seperti semula.

Kesimpulannya, jika ada teman mem-bully seseorang, dicari tahu kenapa dia sampai nge-bully. Dicari penyebabnya lalu dicarikan solusinya. Bukan ikut-ikutan mem-bully karena merasa teman itu benar. Berfikir jernih, kosongkan hati dan fikiran. Telaah apakah diri ini sudah lebih baik darinya atau bahkan lebih buruk. 

Dalam menyelesaikan masalah bully mem-bully ini, kita harus pintar-pintar menyiasati agar kedua belah pihak berdamai dan saling memaafkan. Kalau istilah dalam bahasa Sundanya, "Caina herang laukna beunang" (Airnya bening, ikannya dapat). Artinya dapat menyelesaikan masalah tanpa merugikan siapapun. Semuanya selesai dan baik-baik saja.

Comments