Bersikap Bijak Pada Penilaian Orang Lain Terhadap Kita



Ketika Bertemu Penilaian Negatif

Saya adalah tipe orang yang baperan. Apalagi jika ada yang menyinggung atau menyindir yang ditujukan kepada seseorang di grup whatsapp. Duuh yang ditembak orang lain tapi yang kena tembak dan tersinggung malah saya. Eh tidak saya saja sih, ada ramai orang juga yang tersinggung. Makanya saya paling sebel sama yang suka nyindir-nyindir di grup whatsapp. Harusnya jujur dan bilang secara gentle kalau dia tidak suka si ini atau si itu begini atau begitu. Beres deh. Setuju nggak setuju ya nggak harus selalu dapat persetujuan kan? Namanya saja sikap dan pendirian.

Ketika menemukan komentar negatif di blog sebelah di www.linasasmita.com saya lebih baper lagi. baper dan mulai merenung apa saya salah ya menuliskan tulisan tersebut sehingga orang ini menganggap saya lebay dan lainnya. Kadang demi pembaca, saya ulang lagi kata per kata, kalimat per kalimat agar tulisan tersebut nggak terasa lebay-lebay amat. Tapi kan itu gaya menulis saya. Yang nyaman untuk saya tulis. 

Karena masih penasaran dengan kualitas tulisan tersebut, lalu saya share di fb dan bertanya apa saya lebay? Ternyata jawaban teman-teman lainnya 100% tidak ada yang menyebut saya lebay. Tunggu! Mereka bilang begitu apa karena takut saya tersinggung atau merajuk? Entahlah. Dalam hati, saya merasa mereka jujur.


Ketika Bertemu Penilaian Positif

Secara alami, manusia cenderung suka dengan pujian dan defensif terhadap cacian makian atau hinaan. Nah ketika bertemu dengan sikap dan penilaian orang lain yang memuji, terkadang terselip rasa senang di dalam hati. Namun mendadak teringat kembali bahwa segala pujian kadang membawa kita lengah. Pujian terkadang ibarat racun yang manis. Ketika diminum manis namun setelah itu mematikan. Maka kita harus berhati-hati dengan pujian ini.

Diriwayatkan oleh Atha bin ABu Rabah bahwa ada seorang pria memuji orang lain di hadapan Ibu Umar (Ulamanya para sahabat. Beliau putra dari Umar bin Khattab). Ibnu Umar lalu menyiramkan pasir pada mulutnya dan berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Jika kalian melihat orang-orang yang doyan memuji maka siramkanlah pasir ke wajahnya." (Shahih) Ash Shahihah (912)

Maka berhati-hatilah dengan pujian dan penilaian orang yang berlebihan terhadap kita. Karena kalau kata Aa Gym, orang memuji itu karena mereka tidak tahu aib-aib kita. Seandainya Allah SWT membuka aib-aib kita, niscaya orang tersebut akan berbuat sebaliknya.

Maka tatkala dipuji dan mendapati orang-orang menilai sisi baik kita, selalu ingatlah bahwa Allah SWT sedang menutup aib-aib sehingga kita tidak terlena oleh pujian. Jadikan pujian dan hinaan sebagai cambuk untuk berbuat lebih baik dan lebih banyak lagi bagi kepentingan orang banyak.

Yang sedang saya fikirkan akhir-akhir ini adalah bagaimana menyikapi perasaan baper yang kadang melanda jika orang lain menghina atau menyepelekan. Karena perlu ilmu dan sabar yang akan membawa saya kepada kesuksesan bersikap menghadapi penilaian negatif dari orang lain ini.

Mungkin dengan pujian tidak terlalu berlebihan dan masih ada perasaan takut-takut. Namun terhadap cercaan saya belum bisa menanggapinya secara dewasa. Masih emosional dan reaksional. Bersikap defensif walaupun mungkin saya yang salah. 

Semoga dengan perlahan-lahan introspeksi diri, akan mengubah sikap saya yang reaktif menjadi lebih sabar dan tenang dalam menghadapi hal-hal yang kurang menyenangkan dalam kehidupan.

Apa teman-teman juga suka baperan kayak saya?

Comments