Belajar Menerapkan Gaya Hidup Minimalis

Di zaman modern yang serba cepat ini, gaya hidup minimalis sudah menjadi tuntutan. Terlebih jika hidup di perkotaan yang penuh keterbatasan baik dari segi ruang maupun waktu. Minimalis dalam pemahaman saya berarti ringkas, simpel, tidak banyak barang dan rapi.



Sebenarnya prinsip hidup minimalis ini sudah menjadi bagian hidup saya bahkan sejak 20 tahun yang lalu. Semenjak bekerja di perusahaan Jepang di Batam yang masih saya tempati hingga sekarang ini. Prinsip ini kami mengenalnya dengan sebutan 5S. Singkatan dari Seiri, Seiso, Seiton, Seiketsu dan shitsuke.

Sudah banyak perusahaan-perusahaan multinasional yang telah menjadikan 5S sebagai salah satu filosofi dalam menerapkan sistem manajemen pemeliharaan perusahaan. Terutama untuk teknik housekeeping dalam perusahaan.

Saya tidak akan mengurai tentang 5S secara lengkap. Namun ada beberapa poin yang masih kami terapkan terutama di dalam lingkungan kerja seperti Seiri, Seiton dan Seiso.

Seiri bermakna memisahkan barang yang diperlukan dengan yang tidak diperlukan. Menyingkirkan atau menyimpan barang yang tidak diperlukan tersebut sehingga tidak berada di tempat yang sama dengan yang diperlukan.

Adapun Seiton berarti menentukan tata letak suatu barang pada tempat yang sudah ditentukan sehingga jika dibutuhkan tidak mencari-cari kemana-mana karena lupa menyimpan, karena barang yang diletakkan sembarangan.

Sedangkan Seiso berarti membersihkan sampah dan kotoran juga benda asing sehingga ruangan yang kita gunakan akan terasa bersih dan lengang.

Ketiga hal di atas baik Seiri, Seiton, maupun Seiso (3S) sudah menjadi bagian dari keseharian kami di tempat kerja. Hari-hari yang kami lalui sudah sesuai dengan falsafah hidup orang Jepang dan memang terbiasa menerapkan 5S dalam kehidupan mereka.

Kendalanya adalah pada saat akan menerapkan prinsip 3S di rumah, di kehidupan sehari-hari bersama keluarga, ternyata susah sekali. Padahal gaya hidup minimalis dengan menerapkan prinsip-prinsip 3S ini sangat saya idam-idamkan dan ingin segera mewujudkannya.


Kenapa Menerapkan Hidup Minimalis di Rumah Sendiri Sangat Susah?

Pekerjaan saya, tidak menuntut banyak penggunaan kertas. Paling-paling hanya membutuhkan satu dua lembar saja per harinya. Itu pun tetap di tempat kerja tidak dibawa pulang. Sebaliknya dengan suami saya. Pekerjaannya menuntut ia membawa pulang kertas-kertas yang bermacam-macam. Sehingga banyak gundukan kertas dan dokumen lainnya. Jadi bingung mau merapikan dan menyumpan dimana karena semua lemari, rak, meja, sudah terisi semua.

Selain itu hobby saya membaca buku telah membuat rak buku kepenuhan. Lalu kami membeli dua container yang cukup besar sebagai wadah buku, namun lagi-lagi kepenuhan. Dan buku yang tidak punya tempat saya letakkan di area lainnya yang kira-kira pantas untuk ditaruh buku. Namun tetap saja terasa sesak.

Barang lainnya yang membuat rumah terasa sesak adalah pakaian. Orang bilang sumbangin saja. Duuh saya menyumbangnya saja malu. Bukankah ketika mau menyumbang kita tidak boleh memberi barang yang sudah jelek? Jadi kalau pakaian yang sudah agak pudar warnanya, mau disumbangkan jadi seperti menganggap bisa nyumbang tapi pakaian jelek.  Duh.

Sekarang ini saya masih mencari cara efektif bagaimana merapikan rumah dari barang-barang yang sudah jarang digunakan.

Comments