Hidayah itu Dijemput Bukan Ditunggu!


         “Yang sering dijadikan alasan oleh para wanita untuk menunda pelaksanaan berjilbab adalah mereka mengatakan saya belum berjilbab karena belum mendapatkan hidayah dari Allah SWT. Kalau sudah turun hidayah  gak usah disuruh-suruh nanti juga akan berjilbab dengan sendirinya. Syubhat ini muncul karena kebodohanketidaktahuan, kekurangan ilmu yang menyebabkan dia salah paham terhadap hidayah sehingga menyebabkan dia menunda untuk berjilbab. Memang benar ia belum dapat hidayah. Yang salah adalah dia tidak berusaha untuk mencari hidayah ini.” Ceramah Ustadz Abu Haidar di Radio Hang FM Batam pada Tanggal 03 Februari 2013 jam 10 pagi.


          Beberapa waktu yang lalu untuk kesekian kalinya, saya mendengarkan ceramah Ustadz Abu Haidar di  Radio Hang FM Batam. Yang saya rekam melalui handphone. Ceramahnya cukup menggelitik saya untuk menuliskannya di sini. Ceramah tersebut berbicara mengenai keengganan para wanita-wanita muslimah untuk berjilbab lantaran beralasan belum siap lahir batin dan sebagian lagi beralasan karena menunggu hidayah.

         Para perempuan selalu beralasan belum berjilbab karena belum turunnya hidayah Allah kepadanya. Memang betul ia belum berjilbab karena belum mendapat hidayah, namun tidakkah ia bertanya kepada dirinya sendiri kenapa hidayah itu tidak turun-turun kepadanya? Tentu ada sebabnya. Tentu Allah tidak berbuat dzalim kepada hambanya sehingga para muslimah Ia biarkan “tidak diberi” hidayah.

   Hidayah, oleh Allah diberikan dalam dua bentuk. Yang pertama masiah atau irodah artinya keinginan untuk melakukan amal soleh. Yang kedua adanya kemampuan untuk beramal soleh. Karena ingin dan mampu maka orang itu beramal soleh.

            Kenapa kita ingin melakukan amal soleh? Keinginan itu bukan hasil usaha kita memunculkan keinginan dalam hati. Bukan! Kita tidak mampu untuk itu. Bahwa antara kita dan hati disekat. Allah menyekat, menghalangi  antara seseorang dengan hatinya. Termasuk orang itu tidak bisa memunculkan keinginan dalam hatinya untuk melakukan sesuatu. Lalu darimana keinginan itu datang? Keinginan itu diberikan oleh Allah ke dalam hati orang itu.

          Nah lalu Timbul pertanyaan,  “Apa yang menyebabkan seseorang diberi hidayah dan apa yang menyebabkan orang tidak diberi hidayah?” Pasti ada penyebabnya. Ada beberapa penyebab kenapa seseorang diberi hidayah oleh Allah SWT. Bagaimana cara memperoleh hidayah? Allah berfirman dalam surat Al Ahzab ayat 70 dan 71. 

         “ Hai orang-orang yg beriman bertaqwalah kamu kepada Allah dan  ucapkan oleh kamu ucapan-ucapan  yang baik maka Allah akan mensolehkan amal-amal kamu dan mengampuni dosa-dosa kamu.”

          Ini contoh ayat yang menjelaskan bahwa hidayah bisa dicari dan harus dicari. Kalau tidak dicari hidayah tidak akan datang. Allah menyatakan bertaqwalah kamu maka Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu.

            Berkata para ulama Ahli tafsir terutama Imam Ibnu Katsir “waqulu qoulan sadiidan” dan ucapkan oleh kamu ucapan-ucapan yang baik artinya yaitu ucapan yang lurus tidak ada penyimpangan tidak ada kebengkokan, bukan berupa ghibah, bukan berupa dusta, bukan berupa fitnah, atau namimah, bukan pula perkataan yang menyakiti orang lain itulah yang dimaksud dengan qoulan sadidan.

            Akibatnya Allah akan mensolehkan amal-amal kamu maksudnya Allah akan memberikan hidayah dan taufik kepada kamu untuk melakukan amal-amal soleh. Maknanya adalah apabila kamu berkata yang baik Allah akan memberikan hidayah kepada kamu untuk melakukan amal-amal soleh yang lainnya.

            Ini menunjukkan bahwa berkata yang baik termasuk salah satu cara untuk memperoleh hidayah dari Allah SWT. Berkata yang baik itu adalah semua perkataan yang diperintahkan Allah dalam Al Qur’an seperti berzikir, mengatakan perkataan yang menyenangkan orang lain dan ucapan-ucapan baik lainnya akan mengundang turunnya hidayah Allah SWT kepada orang tersebut.

          Yang kedua carilah hidayah dengan ilmu. Siapa yang mencari ilmu maka Allah akan memberi hidayah kepadanya. Rasul SAW menyatakan “Siapa orang yg menelusuri suatu jalan dia menelusuri jalan itu sekedar untuk mencari ilmu maka Allah akan mudahkan orang itu jalan menuju surga.”  Sehingga makna hadist tadi adalah siapa orang yg keluar mencari ilmu akan dimudahkan untuk beriman dan beramal soleh. Ini menunjukkan bahwa dengan mencari ilmu maka akan dimudahkan seseorang mendapatkan hidayah. Termasuk hidayah berjilbab.

          Mendengar ceramah di atas Saya pun kemudian merenung, barangkali hidayah menjemput saya dulu adalah dikarenakan sewaktu kecil saya suka sekali ikut-ikut nenek ke pengajian dan saya suka sekali mendengarkan ceramah-ceramah di radio. Jika itu benar Alhamdulillah Ya Allah. Engkau telah menghadirkan hidayah itu sedari awal.

            Bermula Ketika masih SD Saya suka sekali ikut nenek ke pengajian bulanan yang biasa diadakan di pesantren-pesantren yang jaraknya hampir satu jam dengan berjalan kaki dari kampung tempat kami tinggal. Karena saya bukan anak nakal (yang ini serius lho :D) kalau  Ajengan (sebutan untuk pimpinan pesantren) dan Nyimas (sebutan untuk istri  pimpinan pesantren dan keturunannya yang perempuan) sedang berceramah memberikan tausiyah-tausiyahnya, Saya ikut duduk manis mendengarkan. Tidak grasak-grusuk sradak-sruduk bermain-main.

            Walau motivasi pertama tidak murni untuk mendapat pencerahan bagi ruhani saya, melainkan karena saya suka sekali bepergian ke tempat-tempat lain alias suka jalan-jalan biarpun sekalipun itu jalan kaki. Naah… hobby yang satu ini malah bertahan sampai sekarang gak hilang-hilang :). Selain itu motivasi lainnya karena nenek selalu memberi jajan lebih sehingga saya bisa pamer kepada kakak dan adik sepulang dari pesantren.

            Selain suka ikut pengajian bersama nenek, Saya juga suka sekali mendengarkan ceramah-ceramah agama yang selalu diputar di berbagai stasiun radio. Setiap pagi dan sore ada saja ceramah yang Saya dengarkan. Dari pengajian dan ceramah itulah hati Saya mulai bertanya-tanya tentang berbagai ketimpangan yang ada. Saya sering mendengar ceramah bahwa memakai hijab itu adalah kewajiban bagi seluruh muslimah namun Saya melihat  begitu sedikitnya perempuan di kampung kami yang betul-betul mengenakan jilbab.  

          Perempuan-perempuan mengenakan jilbab hanya ketika akan pergi ke pengajian namun setelah pulang dari pengajian mereka melepaskannya kembali.  Saya heran kenapa bisa begitu ya, bukankah aurat itu ditutup bukan sekedar pergi ke pengajian saja? Saya masih kecil waktu itu jadi belum berani mengkritisi keadaan,  menanyakan ini itu. 

            Pernah suatu ketika Saya terheran-heran karena Suami Kakak Sepupu – mulai bingung nih nyebutnya- maksudnya Saya punya sepupu terus sepupu itu punya suami nah si suaminya ini sangat tidak menyukai perempuan yang mengenakan celana panjang. Begitu juga Uwa Saya (Alm. Abang kandung ibu Saya) beliau juga katanya sangat sebel kalau melihat perempuan pakai celana panjang.Ini orang kok aneh banget. Saya menganggap mereka itu kolot sekali. Namun diam-diam saya mencari tahu sebabnya.

            Masya Allah, ternyata setelah mendengar sebuah hadist nabi yang berkaitan dengan ini, saya jadi malu sekali. Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA beliau berkata: “Rasulullah SAW melaknat laki-laki yang mengenakan pakaian perempuan, dan perempuan yang mengenakan pakaian laki-laki” (HR Abu Dawud No.4098). Juga hadist Rasulullah yang ini, dari Abdullah bin Abbas RA beliau berkata: “Rasulullah SAW melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki” (HR Al-Bukhari No. 5546).

            Perlahan-lahan Saya mulai meninggalkan gaya yang suka meniru gaya berpakaian laki-laki, yakni tidak lagi mengenakan celana panjang apalagi celana pendek sepaha atau sebetis. Perlahan juga saya merubah penampilan dengan lebih sering mengenakan rok dan kerudung. Alhamdulillah beda rasanya. Lebih teduh di hati dan di fikiran.

          Suatu waktu Saya mendengar juga tentang sebuah hadist Rasulullah yang menyentak ingatan Saya.

        “Akan ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti bonggol unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian (jarak yang amat jauh).” (HR Muslim no. 2128)

            Ketika tahun 1990 menginjak kelas 5 SD Saya mulai sekali-kali berkerudung ke sekolah. Dengan baju seragam lengan panjang namun rok masih pendek sebetis dan kaus kaki sebetis juga. Mirip kaus kaki sepakbola. Ah setidaknya Saya sudah berusaha untuk membiasakan berjilbab walau tidak sempurna.

            Pada saat memasuki SMP Negeri tahun 1992, pada mulanya  saya akan mengenakan jilbab namun karena khawatir tidak diterima gara-gara jilbab maka terpaksa niat tersebut saya urungkan. Jadinya saya berseragam seperti anak SMP pada umumnya.

            Namun, sewaktu kegiatan belajar-mengajar di SMP sudah dimulai, Saya melihat ternyata ada beberapa orang dari kakak-kakak kelas yang berjilbab. Dan ini membuka harapan untuk kembali mengenakan jilbab. Sepertinya Sekolah tidak melarang dan bahkan membolehkan. Dari situ saya kemudian meniatkan dalam hati akan serius berjilbab setelah kenaikan kelas.

          Menjelang kenaikan kelas tiba, Bapak membelikan bahan seragam yang akan dijahitnya sendiri. Saya langsung bilang kepada Bapak untuk menjahitkannya dengan ukuran yang panjang. Rok panjang dan baju lengan panjang. Bapak tidak terlalu mempermasalahkan, beliau langsung mengiyakan dan dalam beberapa hari seragam Saya telah selesai di jahitnya.

            Ketika mengenakan seragam “jilbab” perdana, Saat mematut-matut diri di depan cermin, tiba-tiba ibu mendekati lalu berbicara apa sebaiknya saya membatalkan saja rencana berjilbab tersebut. Tidak usah saya berjilbab karena nanti takut kenapa-napa di sekolah dan di jalan. Ibu khawatir kalau penilaian orang akan sinis dan sentimen. Maklum saat itu masih sering muncul isu bahwa ada perempuan yang membagi-bagikan makanan dan kue kaleng yang beracun. Maka dikenalah istilah jilbab beracun. Juga ada isu wanita berjilbab yang menculik anak-anak dan mencopet di pasar. Dan sebagainya dan sebagainya. Isu-isu yang mendiskreditkan perempuan-perempuan berjilbab. Saya pun bertanya pada ibu bahwa bukankah menurut islam berjilbab atau berhijab itu wajib hukumnya? Ibu hanya menghela nafas panjang, tidak menjawab apa-apa.

            Karena saya orangnya keras kepala kalau sudah punya keinginan harus dituruti, tak peduli apa kata orang nanti, akhirnya Saya tetap mengenakan jilbab. Alhamdulillah 2 tahun mengenakan jilbab di SMP, dengan jarak pulang-pergi sekolah - rumah kurang lebih 5 kilometer dengan berjalan kaki setiap hari melewati beberapa kampung dengan ragam kontur alam seperti sawah, sungai, kebun, dan hutan bambu, tidak ada satu pun peristiwa yang membuat Saya celaka dikarenakan berjilbab seperti yang dikhawatirkan ibu pada awalnya.

            Ada sebuah peristiwa yang cukup mengganggu fikiran Saya sewaktu SMA, yakni pada saat pengambilan foto ijazah, Saya bingung luar biasa. Pihak sekolah menghendaki seluruh siswa yang berjilbab harus membuka jilbabnya saat difoto. Sekolah bilang foto ijazah harus memperlihatkan telinga dan itu sudah ketentuan dari Depdikbud (Sekarang Dinas Pendidikan). Saya bingung sekali dan mengulur-ulur waktu. Bagaimana kalau foto itu dilihat oleh teman-teman lelaki saya yang begitu penasaran seperti apa wajah dan rambut Saya jika tidak berjilbab. Hwaaaa…..belum pun difoto saya sudah takut duluan. Hiks…hiks….Saya nangis. Pokoknya tak rela sama sekali.

          Tiba giliran difoto, Saya akhirnya melepas jilbab, namun berhari-hari kemudian saya meradang, merasa sedih dan marah. Saya heran apakah cacat tidak punya telinga termasuk salah satu syarat lulus tidaknya seseorang ya. Akhirnya foto untuk ijazah itu saya robek-robek. Lalu Saya foto sendiri di studio foto dekat sekolah.  Saya menutupi rambut dengan kerudung dan mengenakan bando kain untuk menguatkan kerudung supaya tidak merosot. Persis meniru gaya berkerudungnya para suster dan biarawati dimana rambut tertutup namun telinganya terlihat. Syukurnya sekolah dapat menerima foto Saya tersebut. Kalau tidak,mungkin saya gak akan lulus SMA kali ya.

          Alhamdulillah semenjak kenaikan kelas 1 menuju kelas 2 di SMP di  bulan Juli 1993 hingga sekarang Saya telah mengenakan jilbab. Walau terkadang masih terjadi pasang surut keimanan dalam hati. Dimana godaan luar biasa sering datang untuk menguji. Menggoda untuk menanggalkan jilbab dari tubuh Saya. Namun Syukur Alhamdulillah Saya masih diberi kekuatan hati untuk tetap berjilbab dan semoga saja kelak ketika ajal menjemput raga ini Saya tetap dapat menutup aurat. Sehingga kelak di yaumil akhir di hari penghitungan dosa-dosa,  hanya sedikit dosa Saya yang disebabkan karena mengumbar aurat di depan lelaki yang bukan muhrim. 

            Tulisan ini Saya buat untuk berpartisipasi mengikuti lomba namun bak menyelam minum air maka melalui ini juga Saya dapat menuliskan uneg-uneg yang sebetulnya ingin Saya sampaikan kepada teman-teman yang belum berjilbab.

          Dear saudariku, jemputlah hidayah itu dengan berbuat kebaikan, dengan menjaga lisan kita dari ghibah, mencela, dan menyakiti hati lawan bicara. Jemputlah hidayah itu dengan menghadiri pengajian-pengajian karena di sana Allah dan para malaikat bersholawat kepada kita. Jemputlah hidayah itu dengan berbakti kepada orang tua. Lakukan sekecil apa pun yang rekan-rekan bisa untuk menjemput hidayah itu. Semoga saja Allah segera membukakan pintu hatimu untuk berhijab wahai saudariku. Sebelum terlambat, sebelum ajal menjemputmu. Aamiiin.

          Cukuplah Engkau berkata "Sami'na Waato'na" Kami dengar dan kami patuh kepada-Mu Ya Allah kepadamu Ya Rasulullah. Ya Allah Segera bukakan pintu-pintu hidayah bagi kami yang masih belum berhijab!

Tulisan ini pernah tayang di notes Facebook danagar dibaca lebih luas lagi saya salin di sini.

Comments

tantiamelia.com said…
“Siapa orang yg menelusuri suatu jalan dia menelusuri jalan itu sekedar untuk mencari ilmu maka Allah akan mudahkan orang itu jalan menuju surga.” alhamdulillaah, kejadian itu kena ke saya, mbak

alhamdulillah banget dikasih kesempatan untuk jadi mualaf, tepat di usia ke 29 tahun, sehingga dimudahkan mendapat jodoh seiman ..hampir saja jadi istri pendeta kalo ga nikah ama yang sekarang hehehe, and you're right, hidayah itu DICARI juga, ga ujug ujug datang
Keke Naima said…
Ya, saya juga pernah dengar ketentuan itu di mana foto ijazah harus lepas kerudung. Alhamdulillah sekarang ketentuannya sudah tidak seperti itu ya, Mbak. Saya setuju kalau hidayah memang harus dijemput
nurul rahma said…
Wahhh, makasiii Bund.
Banyak banget insight dan friendly reminder yg aku dapatkan dari artikel ini
--bukanbocahbiasa(dot)com--
April Hamsa said…
Setuju banget bahwa hidayah itu harus dijemput jangan cuma ditunggu. Mendekatkan diri dengan kebaikan dan org2 sholeh/ sholehah dengan datang ek pengajian bisa jadi salah satu jalannya ya mbak. Semoga kita semua bisa istiqomah setelah dapat hidayah menutup aurat aamiin
Makasih, mba. Memang tanpa terasa kita selalu saja beralasan bahwa ini semua karena blm dapat hidayah. Padahal Hidayah memang bisa djemput
Nanik nara said…
jadi ingat perjuangan untuk bisa mengenakan jilbab saat kelas 2 SMA. Karena nggak ada uang, jadinya saya beli kain putih lalu di jahit sendiri untuk menyambung lengan sehingga jadi lengan panjang
Wian Hermawan said…
Alhamdulillah aku berhijab sebelum hidayah turun. Atau itu disebut hidayah ya? Yang pasti enath apa alasan pasti aku saat itu memutuskan berhijab meski saat itu belum mendapat persetujuan dari suami. Melihat banyak wanita berhijab kok rasa aku pingin ya... itu sih kayaknya awal muasal aku ingin berhijab. Dan alhamdulillah sampai sekarang aku merasa keputusan itu adalah keputusan tepat.
Semoga kita semua selalu istiqomah ya, mba

... dan menjadi orang yang lebih sabar atas gangguan yang dihadapi ketika menyeru ke jalan Allah SWT

Aamiin, ya robbillalaamin...
Dewi Rieka said…
Tersentuh baca kalimat kalau kita berkata baik, maka insya Allah hidayah lain akan datang..makanya selalu dibilang ya, berkata lah yang baik atau diam karena memang kuncinya untuk menjalani hidup..Masya Allah..
Alhamdulillah aku sudah berhijab dari masih sekolah, mungkin pertama memutuskan berhijab bukan karena hidayah yang datang tetapi karena ikut-ikutan teman dan ternyata berhijab itu nyaman sekali pada waktu itu dan memutuskan untuk paten menggunakan hijab
Setuju sekali mba.. semoga kita dimampukan untuk menjemput hidayah Allah.. dan istiqomah berada di jalanNya. Terimakasih remendernya mba
Ini kayak jaman aku masih kuliah tahun 1988, susah banget pakai jilbab jaman itu. Seluruh kampus yang pakai jilbab itu cuma 6 orang termsuk saya. Banyak disindir, jadi bisik2, alhamdulillah saya kuat memakainya. Justru ketika jelang wisuda banyak banget cobaan, sampai saya pun membukanya. Alhamdulillah begitu menikah, mendaptkan suami yang ingin saya berjilbab. Jadi sebenarnya, banyak alasan yang orang enggak tahu mengapa seseorang belum bisa mengenakan jilbab. Semoga mereka yang belum berjilbab diberikan kekuatan hati
Helenamantra said…
Terima kasih pengingatnya. Betul, jika kita mencari insya Allah akan mendapat petunjuk untuk hidayah ke arah yang lebih baik. Iqra', manusia disuruh membaca sekitar.
Iya jadi ingat kadang dulu obrolan bersama teman-teman tentang mengenakan hijab, pasti kalau ngobrolin "kok belum berhijab?" banyak banget tuh yang jawab "nunggu dapat hidayah". Padahal Allah sudah kasih kemudahan tapi masih sering bilang harus nunggu hidayah, justru hidayah itu harus dijemput bukan ditunggu.
Dulu pertama kali pakai jilbab karena ada aktris idola remaja yang meninggal. Waktu itu aktris itu seumur dengan saya. Langsung cepat-cepat pakai jilbab soalnya ternyata umur gak nunggu kita tua ya...
Utie Adnu said…
Bener bnget carilah hidayah dengan ilmu. Siapa yang mencari ilmu maka Allah akan memberi hidayah klo kita diam gk bakalan dtg
Andiyani Achmad said…
Setuju banget mba, kujuga baru memahami konsep hidayah harus kita yang jemput, kita yamg usaha meraihnya, menggapainya, bukan sebaliknya
Bener mbak Lina. Hidayah itu harus dijemput. Menjaganya juga ga mudah. Semoga kita semua istiqomah di atas jalanNya ya mbak. Aamiin
echaimutenan said…
Makash mak pengingatnya. Ngingetin kudu teguh beribadah padaNya. Saling ngingetin ya mbak, termasuk menjemput hidayah
Maria Soraya said…
Mbak Lina, terima kasih untuk sharingnya dan sudah mengingatkan saya juga soal hijab.

Ku share di FB ah untuk pengingat diri.
Farahdjafar said…
Kalo orang yg mendapat hidayah Terima aja yah Kak
Betul, Mbak
Hidayah itu sejatinya dijemput dengan usaha memperbaiki diri
Bukan ditunggu begitu saja
Liza-fathia.com said…
Hidayah itu memang harus dicari ya mbak ga datang dengan sendirinya. Juga harus dijaga karena ia bisa pergi
Desy Yusnita said…
Masyaallah artikelnya luar biasa. Soal hidayah ini ya, kadang sudah datang tapi duniawi kadung menghantui. Akhirnya gagal deh berhijab, atau buka tutup dan lain sebagainya. Semoga semakin banyak muslimah yang sadar kewajiban berhijab ini ya.