Sunday, 22 September 2019

Ironi Kabut Asap dan Belantara Hutan yang Tergarap

Menanggapi situasi Indonesia yang kini sedang dilanda kabut asap, saya hanya mampu mengelus dada. Rasanya kesal, marah dan sedih namun tidak mampu berbuat apa-apa. Sebentuk kekecewaan ini saya tuangkan dalam puisi. Tidak bermakna apapun selain hanya ungkapan tentang kekesalan.

Puisi ini akan bertema tentang kabut asap. Sebentuk kecewa, ungkapan kekecewaan serta harapan di masa yang akan datang.




Ironi Kabut Asap dan Belantara Hutan yang Tergarap

Nanar mata menatap
Pada kampung dan kota yang terkepung asap
Pada langit yang tampak memucat 
Pada siang dan sore kami yang memekat

Tidakkah para pembakar punya nurani
Mengasihi hutan dan semua para penghuni
Yang terbakar, terdampar dan terkapar penuh ironi
Meregang nyawa meninggalkan alam badani

Wahai Tuan Sang Penguasa!
Tidakkah tuan terketuk rasa
Begitu banyak mahkluk yang binasa
Menyisakan tangis dan nelangsa yang sia-sia

Hari-hari kami jalani dengan penuh sesak
Menahan kesal dan tangis yang terisak
Meredam marah yang kian mendesak
Menatap hutan yang kian rusak

Kami hanya menggenggam secercah harapan 
Untuk dijemput di masa depan
Patutlah pula engkau hiraukan
Jika engkau makhluk Tuhan yang Dermawan

Bila hari kelak berganti
Dan musim kemarau makin mendekati
Hendaklah tuan berhati-hati
Segeralah bentuk tim yang berbakti

Saturday, 21 September 2019

Tips Mengosongkan Gelas saat Menuntut Ilmu

Para penuntut ilmu sejatinya adalah gelas-gelas kosong yang akan diisi dengan berbagai ilmu pengetahuan. Para penuntut ilmu adalah gelas yang tak akan pernah penuh karena selalu haus dan haus akan keluasan ilmu. Gelas yang kelak akan mengisi kekosongan dengan lautan ilmu pengetahuan.

Lalu bagaimana caranya agar kita sebagai pembelajar selalu merasa haus akan ilmu, selalu merasa kurang dan selalu merasa belum cukup ilmu sehingga terus mencari dan melahap ilmu pengetahuan yang baik sehingga tidak merasa uzub, riya atau takabur akan ilmu yang sudah didapat.



Mengosongkan gelas fikiran untuk menerima transferan ilmu dari orang lain seharusnya dilakukan oleh semua orang yang senantiasa ingin memperoleh manfaat dari ilmu. Karena adab-adab dalam berilmu adalah menghormati guru si pemberi ilmu itu sendiri.

Ada beberapa tips yang mungkin bermanfaat yang dapat teman-teman gunakan jika merasa bahwa setiap belajar kenapa tidak nempel-nempel. Kenapa susah sekali ilmu tersebut diingat dan dihafal. Berikut tips mengosongkan gelas fikiran dalam menuntut ilmu.

1. Berdo'a
Setiap melangkahkan kaki ke majelis ilmu, baik ilmu mengenai dunia maupun ilmu akhirat, senantiasa iringi oleh do'a. Memohon kepada Allah SWT agar ilmu tersebut terserap ke dalam kepala kita. Agar ilmu yang nanti kita peroleh dapat bermanfaat baik bagi diri sendiri, keluarga maupun masyarakat banyak.

2. Membuat keputusan dalam diri untuk menjadi pembelajar seumur hidup (a lifelong learner)
Jika di dalam hati dan fikiran telah tertanam bahwa kita seorang pembelajar yang haus akan ilmu, maka tidak ada lagi kesombongan pada diri sehingga menghalangi masuknya ilmu. Karena gelas yang sudah berisi tidak akan mampu lagi menampung air yang masuk. Maka selalu merasa kurang dan selalu merasa diri belum tahu apa-apa.

3. Berfikir bahwa orang lain lebih berilmu daripada diri kita
Merasa diri sudah tahu, akan menghalangi seseorang untuk mendapatkan ilmu yang mendalam. Jika seseorang sudah mendapatkan ilmu lalu merasa sudah cukup maka sesungguhnya ia telah menutup ilmu dengan pintu yang sulit ditembus. Membuka kembali keingintahuan dan pendapat orang lain akan ilmu yang sama, akan membuka pintu-pintu ilmu lainnya sehingga pengetahuan kita semakin mendalam.

4. Jadwalkan waktu untuk belajar
Selalu mempunyai waktu untuk terus menuntut ilmu dimanapun berada. Menjadwalkan waktu untuk belajar, akan senantiasa menanamkan bahwa diri ini selalu merasa perlu dan terus mempelajari berbagai hal yang bermanfaat.

5. Menyimak dengan benar
Seorang pembelajar apalabila menerima ilmu ia akan bahagia. Karena fikiran dan pengetahuannya terisi oleh nutrisi. Jika tubuh nutrisinya makanan, ruh oleh siraman rohani, maka akan diisi oleh ilmu. Menyimak dengan baik-baik yang diterangkan oleh guru/mentor/pembimbing adalah satu cara untuk mengosongkan gelas agar segera terisi.

itulah 5 tips dari saya semoga bermanfaat.

Friday, 20 September 2019

Asyiknya Siaran Menggunakan Podcast

Sudah lama saya mengetahui tentang podcast ini. Sewaktu kursus Bahasa Inggris dulu, saya biasa mengunduh beberapa podcast percakapan berbahasa Inggris dan mendengarkannya berkali-kali demi mengasah kemampuan hearing dan listening saya. Namun karena waktu itu handphone belum mendukung, dan minat belum terlalu kuat, maka saya pun tidak terlalu ingin membuat podcast.



Tertantang oleh tema ODOP Komunitas ISB hari ini tentang podcast, maka saya mulai mencari-cari cara bagaimana membuat podcast tersebut. Karena aplikasi yang populer sejak dulu dan saya kenal adalah soundcloud, maka saya pun mendaftar akun baru di soundcloud. Saya Pede saja akan langsung diterima. Namun ternyata salah besar. Berkali-kali memasukkan alamat email yang berbeda dan ganti-ganti browser agar supaya diterima pendaftaran kali ini, tetap saja tidak bisa. Duh frustasi.

Saya mendaftar menggunakan laptop. Sudah berganti dari chrome ke mozilla dan ganti email juga tetap pendafatar tidak berhasil. Email saya disangka oleh robot soundcloud sebagai spam. Duh gimana sih belum saja kita kenal sudah dianggap penjahat. Tega banget kamu ih. #drama

Ada satu langakah lagi yang belum saya coba. Daftar pakai handphone atau smartphone. Biasanya kalau pakai HP semua masalah sering segera teratasi. Dan baru nyoba sekali dua kali ternyata Alhamdulillah sudah berhasil. Ngetes langsung siaran walaupun tidak pakai backsound musik. Gpp namanya juga awalan ya. Sebagai pemula saya bangga bisa nggak ngulang walaupun di beebrapa kalimat ada yang lambat dan lupa haha. Lumayan deh buat pemula mah.

Inilah podcast perdana saya yang membahas tentang Pembukaan Masjid Sultan Mahmud Riayat Syah di Batam yang diselenggarakan pada 20 September 2019 kemarin.




Nah itu podcast pertama saya jangan lupa mendengarkan dan follow ya. mana tahu kesukaan saya jadi penyiar radio bisa tercapai sekarang haha. Saya mau rajin-rajin rekaman ah mumpung sudah tahu caranya.

Bahagia banget nemu cara ini kok baru kali ini ya nyobain ih sebel banget. Bismillah saya mulai mengudara. 😃

Thursday, 19 September 2019

5 Merk Benda yang Membangkitkan Kenangan di Masa Kecil

Pernahkan teman-teman melihat satu benda kemudian mendadak ingat masa kecil dulu? Saya sering. Karena produk-produk atau benda itulah yang menyangkut di memori dan menajdi jembatan penghubung akan masa sekarang dan masa lalu.

Saya sangat bersyukur karena beberapa merk masa kecil dulu masih ada hingga sekarang. Ini yang selalu membuat saya senantiasa bersyukur kepada Allah SWt mengingat masa kecil yang indah dan bahagia. 



Sedikitnya ada 5 produk atau benda yang jika saya melihat saja sudah terbayang masa kecil dulu. Saya cenderung lebih ingat kepada merk yang dari dulu sampai sekarang masih survive bertahan di tengah persaingan global. Berikut ke-5 produk tersebut:

1. Pasta Gigi Pepsodent
Sejak kecil, ayah saya selalu rajin membeli pasta gigi Pepsodent. Namun ketika kemasan pepsodent berganti dari alumunium menjadi sejenis plastik, ayah yang tidak mengetahui bahwa itu kemasan terbaru menganggap bahwa pepsodent telah dipalsukan dan berhenti membeli pepsodent. Beliau bilang yang ini pepsodent palsu soalnya kemasannya beda. Hehe kalau ingat itu saya jadi suka tersenyum sendiri. Setelah beberapa lama pasta gigi yang lain pun ternyata kemasannya sama berubah menjadi kemasan yang seperti sekarang, menggunakan sejenis plastik. Mungkin karena semua sama, ayahpun kembali membeli pepsodent.Karena faktor kebiasaan, jadi kalau tidak sikat gigi pakai pepsodent itu malah terasa aneh saja. Dan ini malah menurun kepada anak saya. Dia tidak menyukai pasta gigi merk lainnya yang biasa untuk anak-anak, dia malah lebih suka menggunakan Pepsodent. Persis kakeknya.

2. Detergent Rinso
Ini detergent legendaris sekali. Semenjak saya balita kayaknya ibu sudah menggunakan Rinso sebagai detergent pembersih pakaian keluarga kami. Jadi karena brandingnya sudah begitu kuat, tatkala merk lain muncul pun tetap saja kalau beli di warung selalu bilang beli Rinso walaupun yang dibeli merk lain.

3. Susu SGM dan Dancow
Saya dan adik saya usianya selisih 3 tahun. Tapi sejak kecil ibu selalu menyiapkan susu yang sama untuk kami berdua. Susu SGM. Saya ingat sekali susu SGM kami wadahnya atau kemasannya dalam kaleng. Paling suka nyuri-nyuri susu yang masih dalam bentuk bubuk. Menyendok diam-diam lalu ditaruh di telapak tangan. Setelah habis kami menjilati telapak tangan sampai bersih karena susunya lengket ke telapak tangan. Setelah susu yang dibuat ibu terhidang kami segera menyeruput sampai habis. Jiak SGM habis, ibu suka membelikan kami susu Dancow juga. Gantian. Hanya dua merk itu saja. Keduanya kami tetap suka dan selalu habis kalau dibuatkan.

4. Kacang Polong (Kacang Goreng) 
Ayah saya seorang pedagang. Setiap pulang berjualan dari pasar, suka membeli makanan untuk kami. yang paling kami suka adalah kacang polong dan sukro. Kacang polong ini pewarnanya sangat banyak bahkan setiap kami makan dan maaf buang air besar, warnanya berubah jadi hijau. Saat itu kami menganggap biasa saja, tidak tahu apakah kacang tersebut mengandung pewarna alami atau buatan yang jelas rasanya enak dan kriuk. Nah sampai sekarang pun saya masih suka jajan kacang polong ini di warung kantin. Tiap membelinya yang ada di fikiran adalah ini oleh-oleh ayah sepulang dari berjualan di pasar.

5. Kue Kuping Gajah
Selain kacang polong dan sukro, Ayah juga suka membelikan kami oleh-oleh kue kuping gajah. Dan kami semua sangat menyukainya. Kami memakannya kadang dengan mematahkan bagian per bagian mengikuti alur spiral kuping gajah. Kadang berhasil kadang tidak. Kue ini tidak terlalu manis dan jika dimakan terasa kriuk. Bentuknya yang tipis dan lebar seperti daun bunga kuping gajah membuat masyarakat menyebutnya dengan sebutan kuping gajah juga.

Apakah teman-teman juga punya daftar benda atau barang yang jika disebutkan mampu membangkitkan  kenangan masa lalu, sama dengan saya?

Wednesday, 18 September 2019

Pentingnya Hidup Bersaing dan Punya Pesaing

Sejak sekolah baik SD, SMP, SMA maupun masa kuliah, saya tidak pernah merasa tertantang menjalani kegiatan belajar tanpa adanya persaingan. Bersaing dengan teman sekelas atau satu angkatan guna memperoleh nilai dan angka-angka pelajaran adalah hal yang menyenangkan dan selalu menggairahkan.



Persaingan menurut saya sangat penting agar seseorang mampu berkembang lebih baik. Bisa berusaha keras lagi supaya apa yang dia inginkan dapat tercapai. Bersaing dengan menjadikan kesuksesan seseorang sebagai target pencapaian tentu bukanlah sebuah aib. Banyak orang yang bangkit dari keterpurukan karena merasa ada saingan dan tertantang untuk mengalahkan saingan.

Banyak perusahaan besar di dunia yang lahir dari persaingan. Banyak orang besar di dunia terlahir melalui persaingan dalam dunia politik, ekonomi, sosial dan lainnya. Bahkan bukankah manusia itu sendiri sejak pertma kali diciptakan dari sel sperma laki-laki adalah dengan mengalahkan sel-sel para pesaingnya? Manusia yang lahir ke dunia adalah para pemenang. Maka bersaing untuk menjadi yang terbaik dan menjadi pemenang adalah fitrah manusia.

Dalam dunia usaha, persaingan sangatlah wajar. Persaingan usaha yang baik dan sehat dapat menimbulkan dampak positif bagi perekonomian masyarakat dan juga negara. Selain itu persaingan usaha dapat memberikan stimulus produktifitas ke dalam suatu perusahaan sehingga dapat mengembangkan berbagai temuan dan inovasi sehingga diperoleh barang dengan kualitas terbaik. Begitupun harga yang diciptakan akan lebih kondusif dan kompetitif. 

Persaingan juga membuat konsumen jadi mempunyai banyak pilihan dan alternatif dalam membeli suatu barang. Bisa mendapatkan kualitas terbaik dan juga harga terbaik. Begitu juga sebaliknya bagi para produsen akan menghasilkan barang yang selalu berpatokan pada kualitas terbaik yang akan memuaskan para pelanggan.

Dari sisi sumber daya manusia, persaingan akan menghasilkan SDM SDM yang mumpuni dan menguasai di bidangnya. Perusahaan, organisasi dan juga institusi akan mempunyai pegawai-pegawai yang kredibel dan cakap dalam bidangnya. Sehingga segala sesuatu akan ditangani secara baik dan profesional karena orang yang dipilih adalah orang-orang yang terbaik.

Di bidang olahraga, persaingan telah mencetak atlit-atlit dunia yang sangat berprestasi. Dari cabang olahraga apapun telah mencetak atlit terbaik dari setiap kompetisi yang digelar seperti olympiade dan kejuaran-kejuaraan internasional lainnya. Nama Indonesia pun telah berkali-kali diharumkan oleh para atlit nasional yang memenangkan berbagai perhargaan dalam cabang olahraga.

Dari bidang kebersihan dan lingkungan, berbagai award atau pernghargaan adalah sebuah stimulus dalam mendorong sebuah lembaga/institusi atau wilayah dan juga perorangan bersaing mendapatkan yang terbaik. Penghargaan seperti Kalpataru merupakan contoh award dari hasil persaingan di bidang lingkungan.

Persaingan di bidang ilmu pengetahuan akan menghasilkan teknologi yang maju. Smartphone yang kita pegang sekarang adalah sebuah produk yang lahir dari persaingan global. Persaingan perusahaan-perusahaan teknologi yang menciptakan alat komunikasi yang lebih smart.

Intinya bahwa persaingan sangat diperlukan dalam kehidupan ini sehingga manusia-manusia modern selalu berfikir dan berusaha untuk lebih maju dan lebih baik lagi. Sehingga tercipta sebuah kehidupan yang dalam berbagai hal merupakan puncak dari kecerdasan dan kepintaran manusia sebagai makhluk ciptaan Allah SWT.



Tuesday, 17 September 2019

Tips Agar Tidak Terjebak di Dunia Halu


Woooo Dasar halu loe! Apakah anda sering mendengar teman atau saudara berkata-kata seperti itu? Biasanya kalimat tersebut terungkap saat seseorang mengungkapkan hal-hal yang menurut orang lain tidak mungkin terjadi. Ketinggian. Bagai mimpi dan tidak akan mungkin terjadi di kemudian hari.



Halu dimaksudkan adalah halusinasi. Kebiasaan kita selalu menyingkat kata-kata yang kepanjangan sehingga mudah dan cepat diucapkan namun tetap maknanya masih bisa difahami. Maka kata halusinasi pun kerap disingkat menjadi halu karena dinilai kepanjangan jika digunakan dalam percakapan sehari-hari yang tidak resmi. Untuk paragraf selanjutnya, saya akan menggunakan kata halu saja agar teman-teman lebih fokus dengan maksud tulisan ini. Tidak membahas halusinasi dalam gejala fisik namun lebih ke psikis.

Jika hanya dalam taraf wajar dan tidak menjadi kebiasaan, tidak mengindikasikan gangguan psikis si pelaku dan juga orang lain, tidak juga merugikan secara materi si pelaku dan juga orang lain, maka halu ini masih tidak membahayakan. Seperti ungkapan pada paragraf di atas. Biasanya kata-kata halu ini digunakan pada sesuatu yang nyata tapi tidak mungkin. Misalnya saja. "Seandainya saja Lee Ming Ho jadi suami gue." maka spontan teman-teman di dekatnya akan bilang "Dasar halu Loe." 

Salah satu ciri seseorang yang terjebak ke dalam dunia halu, biasanya menginginkan sesuatu yang belum atau tidak mungkin ia miliki. Mendambakan sesuatu hal yang menurut kebiasaan dan ukuran kemampuan seseorang tidak akan terjadi atau tidak mungkin dilakukan. 

Keinginan yang berlebihan, tidak pandai bersyukur, tidak menerima atas apa yang diberikan oleh Sang Pencipta, biasanya mengawali tanda-tanda seseorang yang kena halu ini. Jadi apa saja agar seseorang tidak terjebak di dunia halu? Ada beberapa tips yang mungkin bisa menyembuhkan teman-teman yang sudah mulai merasa terjebak dunia halu ini.

1. Sadarilah bahwa Allah SWT Menciptakan Manusia Berbeda-beda 
Manusia diciptakan berbeda-beda dari semua hal. Ada yang kaya ada yang miskin. Ada yang cantik ada yang jelek. Ada yang tinggi ada yang pendek. Jika sejak awal seseorang menyadari bahwa Allah SWT menciptakan berbeda maka tidak lagi ada rasa iri atau keinginan yang berlebihan untuk menjadi seperti orang lain tanpa menilai bahwa ia belum mampu melakukannya. 

2. Perbedaan harus Dijadikan Pemacu dan Pemicu untuk Berubah Menjadi Lebih Baik
Menginginkan sesuatu hal harus disertai usaha. Jika menginginkan kehidupan yang lebih baik seperti melihat kehidupan yang dijalani orang lain, maka usaha harus dilakukan dengan kerja keras dan do'a. Jadikan perbedaan nasib dan keberuntungan orang lain menjadi pemacu untuk terus bekerja lebih giat lagi. Menjadi pemicu supaya selalu bersemangat untuk meraihnya.

3. Selalu Bersyukur atas Apa yang Telah Allah Anugerahkan kepada Kita   
Menjadi orang yang pandai bersyukur adalah salah satu kunci hidup bahagia. Menerima apapun yang telah dianugerahkan kepada kita dan mensyukurinya akan mendapati ketenangan dalam hati. 

4. Selalu Melihat ke Bawah
Besyukur atas apa yang kita peroleh dan membandingkan kehidupan dengan yang berada di bawah kita, akan senantiasa membuat kita merasa beruntung dan bersyukur kepada Allah SWT atas apa yang telah Ia anugerahkan ke dalam hidup ini. Banyak orang sakit, sementara kita sehat. Banyak orang kemana-mana dengan berjalan kaki sementara kita berkendara. Banyak yang tidak mempunyai tempat tinggal sementara rumah kita sangat nyaman. 

5. Isi Waktu Luang dengan Berbagai Kegiatan
Melamun kerap kali membuat waktu terbuang. Berandai-andai menginginkan sesuatu yang belum dimiliki malah justru membuang waktu dan energi. Seharusnya waktu luang dimanfaatkan untuk kegiatan positif. Jangan biarkan waktu terbuang percuma dan sia-sia.

Monday, 16 September 2019

Bersikap Bijak Pada Penilaian Orang Lain Terhadap Kita



Ketika Bertemu Penilaian Negatif

Saya adalah tipe orang yang baperan. Apalagi jika ada yang menyinggung atau menyindir yang ditujukan kepada seseorang di grup whatsapp. Duuh yang ditembak orang lain tapi yang kena tembak dan tersinggung malah saya. Eh tidak saya saja sih, ada ramai orang juga yang tersinggung. Makanya saya paling sebel sama yang suka nyindir-nyindir di grup whatsapp. Harusnya jujur dan bilang secara gentle kalau dia tidak suka si ini atau si itu begini atau begitu. Beres deh. Setuju nggak setuju ya nggak harus selalu dapat persetujuan kan? Namanya saja sikap dan pendirian.

Ketika menemukan komentar negatif di blog sebelah di www.linasasmita.com saya lebih baper lagi. baper dan mulai merenung apa saya salah ya menuliskan tulisan tersebut sehingga orang ini menganggap saya lebay dan lainnya. Kadang demi pembaca, saya ulang lagi kata per kata, kalimat per kalimat agar tulisan tersebut nggak terasa lebay-lebay amat. Tapi kan itu gaya menulis saya. Yang nyaman untuk saya tulis. 

Karena masih penasaran dengan kualitas tulisan tersebut, lalu saya share di fb dan bertanya apa saya lebay? Ternyata jawaban teman-teman lainnya 100% tidak ada yang menyebut saya lebay. Tunggu! Mereka bilang begitu apa karena takut saya tersinggung atau merajuk? Entahlah. Dalam hati, saya merasa mereka jujur.


Ketika Bertemu Penilaian Positif

Secara alami, manusia cenderung suka dengan pujian dan defensif terhadap cacian makian atau hinaan. Nah ketika bertemu dengan sikap dan penilaian orang lain yang memuji, terkadang terselip rasa senang di dalam hati. Namun mendadak teringat kembali bahwa segala pujian kadang membawa kita lengah. Pujian terkadang ibarat racun yang manis. Ketika diminum manis namun setelah itu mematikan. Maka kita harus berhati-hati dengan pujian ini.

Diriwayatkan oleh Atha bin ABu Rabah bahwa ada seorang pria memuji orang lain di hadapan Ibu Umar (Ulamanya para sahabat. Beliau putra dari Umar bin Khattab). Ibnu Umar lalu menyiramkan pasir pada mulutnya dan berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Jika kalian melihat orang-orang yang doyan memuji maka siramkanlah pasir ke wajahnya." (Shahih) Ash Shahihah (912)

Maka berhati-hatilah dengan pujian dan penilaian orang yang berlebihan terhadap kita. Karena kalau kata Aa Gym, orang memuji itu karena mereka tidak tahu aib-aib kita. Seandainya Allah SWT membuka aib-aib kita, niscaya orang tersebut akan berbuat sebaliknya.

Maka tatkala dipuji dan mendapati orang-orang menilai sisi baik kita, selalu ingatlah bahwa Allah SWT sedang menutup aib-aib sehingga kita tidak terlena oleh pujian. Jadikan pujian dan hinaan sebagai cambuk untuk berbuat lebih baik dan lebih banyak lagi bagi kepentingan orang banyak.

Yang sedang saya fikirkan akhir-akhir ini adalah bagaimana menyikapi perasaan baper yang kadang melanda jika orang lain menghina atau menyepelekan. Karena perlu ilmu dan sabar yang akan membawa saya kepada kesuksesan bersikap menghadapi penilaian negatif dari orang lain ini.

Mungkin dengan pujian tidak terlalu berlebihan dan masih ada perasaan takut-takut. Namun terhadap cercaan saya belum bisa menanggapinya secara dewasa. Masih emosional dan reaksional. Bersikap defensif walaupun mungkin saya yang salah. 

Semoga dengan perlahan-lahan introspeksi diri, akan mengubah sikap saya yang reaktif menjadi lebih sabar dan tenang dalam menghadapi hal-hal yang kurang menyenangkan dalam kehidupan.

Apa teman-teman juga suka baperan kayak saya?

Sunday, 15 September 2019

Trik Agar Tidak Diusir dari Cafe saat Numpang Kerja

Menulis atau ngeblog di rumah kadang adaaaa saja gangguannya. Tiba-tiba anak minta inilah itulah. Tiba-tiba tetangga datang, tiba-tiba lapar pengen masak. Dan gangguan lainnya yang bikin menulis nggak jadi-jadi. Maka solusinya ya lari ke cafe atau ke coworking space. Karena coworking space di kota kami letaknya jauh dari rumah, tinggal satu pilihan yakni cafe.



Ada banyak cafe di pelosok kecamatan tempat saya tinggal. Setiap jalan selalu ada beberapa cafe yang sudah berdiri. Hilang satu cafe akan tumbuh dua atau tiga cafe. Begitu terus sehingga tidak sulit untuk kongkow atau nongkrong ngopi sambil cari wifi gratisan.

Enaknya nongkrong di cafe, kalaupun harus bawa keluarga tetap semua asyik sendiri-sendiri haha. Suami dan anak saya pada anteng dengan gadgetnya. Sementara saya bisa lancar menulis tanpa diinterupsi oleh mereka kecuali pada saaat pesanan makanan datang.

Sejauh ini, walaupun makanan dan minuman sudah habis, belum pernah sekalipun kami diusir oleh petugas cafe. Dan belum ada pengalaman juga sih diusir secara halus oleh mereka. Hanya saja, kalau kelamaan justru saya yang nggak enak body. Masa sih sudah berjam-jam dan makanan sudah tandas kami tidak pesan lagi. Maka, kami mengakalinya dengan pesan kopi atau camilan ringan setelah semua makanan di meja bersih tak bersisa.

Pertanyaan selanjutnya adalah... apa triknya biar tidak diusir dari cafe secara halus?

Saya punya beberapa trik yang satu dua pernah diamalkan. hehe. Coba mana yang cocok bisa teman-teman terapkan.

1. Kenalan dengan Pegawai Cafe
Saya pernah juga sih sok-sokan pura-pura ngajak ngobrol pegawainya. Nanya ini itu lalu foto-foto dan bilang tertarik untuk menuliskan cafe tersebut di blog atau di Trip Advisor. Nah yang kayak gini biasanya mereka tetap baik sampai saya pulang dengan sendirinya. Hehe. Saat pulang memang betulan sih saya menuliskan review-nya.

2. Kenalan dengan Owner Cafe
Pernah suatu saat saya dan Chila nongkrong di cafe. Sementara saya sibuk di depan laptop, Chila anteng dengan tabletnya. Beberapa kali saya bolak-balik mengecek kondisi anak gadis kecil saya yang berbeda ruangan. Takut ia tiba-tiba menghilang begitu saja. Lama-lama ada bapak-bapak yang mulai curi-curi pandang seperti curiga kenapa saya mondar-mandir terus. Saya langsung nanya ke pegawainya ternyata memang Bapak yang ngelihatin saya itu owner cafenya. Saya pun menyapa dan berkenalan dengannya. Sekalian deh izin foto-foto dan meminta kartu nama. Syukur Alhamdulillah ternyata dia menyambut dengan senang hati.

3. Pilih Sudut yang Tersembunyi
Pilihlah lokasi atau tempat di sudut tersembunyi dari penglihatan orang-orang. Pegawai yang sibuk juga jarang ngeh kalau ada kita di sana karena tersembunyi. Jadi kita punya waktu luang untuk terus bekerja tanpa rasa terganggu dengan tatapan aneh bersemu mengusir dari para pegawai cafe. Tapi hati-hati jangan sampai kelewatan waktunya. Tahu-tahu pintu dikunci dari luar dan kamu kegelapan di dalam sampai keesokan harinya. Hiyy serem.

4. Bawa Modem Sendiri
Kadang ada saja orang nyinyir yang mengusik hidup kita dengan tatapan sinisnya. Nongkrong di cafe modal 15 rebu, onlinenya bisa 4 jam, bisiknya dalam hati. Maka jika kamu mampu mendengar bisikan atau suara hati lewat tatapan mereka itu, maka letakkan modem besar-besar di atas meja supaya orang tahu bahwa kita bawa wifi sendiri dan nggak ngandalin wifi gratisan dari cafe. Horang kayaaah. Kita cuma numpang duduk doang kok supaya menulis dengan tenang.

5. Bawa Teman yang Banyak untuk Nongkrong
Biasanya, pegawai cafe itu agak sungkan kalau mengusir halus banyak orang dalam satu meja. Lagian ya, di meja biasanya banyak makanan. Yang pesan akan silih berganti. Atau yang traktir juga kemungkinan akan lebih banyak. Tapi minusnya, kamu paling-paling nggak bakalan konsen kerja karena malah ikut ngerumpi atau nimbrung hal-hal yang lagi dibahas teman-teman. Siap-siap bawa headphone untuk meredam suara masuk ke telinga. Haha segitunya.

Nah begitu aja sih trik versi saya. Kalau teman-teman punya trik apa saja supaya tidak diusir secara halus dari cafe?

Saturday, 14 September 2019

Quote yang Paling Berpengaruh dalam Hidup Saya

"Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS. Al-Jum’ah, ayat 10) 



Saya merenung memikirkan makna dari ayat di atas. Sepertinya memang mengena sekali di hati. Ayat ini begitu indah. Allah SWT memerintahkan manusia bertebaran di muka bumi untuk mencari karunia-Nya. Makna yang saya dapat adalah bahwa Allah SWT menyuruh kita bekerja, bermata pencaharian, menuntut ilmu, berbuat kebaikan atau hal lainnya kemana pun dan dimana pun di seluruh permukaan bumi yang luas ini dengan tujuan untuk mencari karunia Allah. 

Kalimat “Bertebaranlah Kamu di Muka Bumi” ternyata sangat dalam masuk ke dalam hati saya sehingga yang terfikirkan adalah globe dan peta dunia. Ketika menatap globe atau bola dunia, saya membayangkan bisa berkeliling dunia mengunjungi satu negara ke negara lainnya. Melihat dan menyaksikan langsung keragaman alam, budaya dan kehidupan masyarakat di belahan dunia lainnya. 

Betapa karunia Allah tersebar di berbagai belahan dunia dan betapa hati ini ingin segera memulainya dengan melangkahkan kaki ke luar dari kampung halaman. Ya, saat itu saya masih kecil, masih SD dan sudah terngiang-ngiang dengan petikan ayat di atas. 

Semasa Sekolah Dasar tersebut, saya sangat menyukai perjalanan jauh. Melihat berbagai suasana desa dan kota yang dilalui. Maka tatkala orang tua atau saudara bepergian ke luar kota, saya orang yang paling pertama ikut. Meskipun kadang harus tidak sekolah berhari-hari. Meskipun harus menyalin pelajaran-pelajaran yang tertinggal berhari-hari ke dalam buku catatan. 

Ketika tumbuh remaja, saya melanjutkan sekolah di Jakarta. Dan setelah lulus, merantau untuk bekerja lalu kuliah di Batam. Sesuatu yang sangat saya inginkan pada masa itu. Menghabiskan fase-fase kehidupan di kota yang berbeda-beda. 

“Travelling—it leaves you speechless,
then turns you into a storyteller.”—Ibnu Batutah 

Quote kedua yang paling saya sukai adalah quote dari Ibnu Batutah di atas yang menyebutkan bahwa Traveling atau bepergian itu bisa membuatmu kehilangan kata-kata lalu akan mengubahmu menjadi seorang pencerita/pendongeng.

Betul, ini terjadi kepada saya. Dimana kerap merenung dan terpukau saat melakukan perjalanan mendaki gunung dan setibanya di puncak gunung mendadak speechless, kehabisan kata-kata.

Pendakian demi pendakian dan perjalanan demi perjalanan yang dilalui ternyata menggiring saya untuk bercerita melalui blog. Sungguh niat awalnya hanya berbagi, dan memang benar sesuai quote di atas, saya mendadak menjadi story teller. Menceritakan kembali apa-apa yang pernah dilalui dan dijalani dengan penuh semangat.


"Aku rela dipenjara bersama buku, karena dengan buku aku bebas.” - Moh. Hatta 


Saya salah seorang pengagum Mohammad Hatta. Bapak proklamator Indonesia. Kecintaannya kepada buku membuat ia tenggelam dalam bacaan buku-buku bahkan di saat beliau diasingkan di Digul Papua dan Banda Neira. Buku adalah teman setia dalam pengasingan.

Mencontoh kesukaan Bung Hatta terhadap buku, saya pun memutuskan untuk mencintai buku-buku. Buku apapun itu saya baca dan terus baca. Termasuk kamus, majalah dan koran. Alhamdulillah dengan banyak membaca seperti ini, wawasan tentang berbagai hal jadi semakin dikuasai.

Buku membuka jendela ilmu. Mempertemukan akal, logika dan nalar dalam sebuah equilibrium yang sama. Menjadikan sesuatu tanya menjadi jawab. Sehingga persoalan kehidupan kerap teratasi dengan kegiatan membaca seperti ini.

Mencontoh Bung Hatta dalam segi keilmuan sungguh tepat adanya. Betapa beliau hampir menguasai berbagai bidang keilmuan sehingga kita sebagai masyarakat Indonesia mempunyai figur untuk digugu dan ditiru.

Friday, 13 September 2019

Belajar Menerapkan Gaya Hidup Minimalis

Di zaman modern yang serba cepat ini, gaya hidup minimalis sudah menjadi tuntutan. Terlebih jika hidup di perkotaan yang penuh keterbatasan baik dari segi ruang maupun waktu. Minimalis dalam pemahaman saya berarti ringkas, simpel, tidak banyak barang dan rapi.



Sebenarnya prinsip hidup minimalis ini sudah menjadi bagian hidup saya bahkan sejak 20 tahun yang lalu. Semenjak bekerja di perusahaan Jepang di Batam yang masih saya tempati hingga sekarang ini. Prinsip ini kami mengenalnya dengan sebutan 5S. Singkatan dari Seiri, Seiso, Seiton, Seiketsu dan shitsuke.

Sudah banyak perusahaan-perusahaan multinasional yang telah menjadikan 5S sebagai salah satu filosofi dalam menerapkan sistem manajemen pemeliharaan perusahaan. Terutama untuk teknik housekeeping dalam perusahaan.

Saya tidak akan mengurai tentang 5S secara lengkap. Namun ada beberapa poin yang masih kami terapkan terutama di dalam lingkungan kerja seperti Seiri, Seiton dan Seiso.

Seiri bermakna memisahkan barang yang diperlukan dengan yang tidak diperlukan. Menyingkirkan atau menyimpan barang yang tidak diperlukan tersebut sehingga tidak berada di tempat yang sama dengan yang diperlukan.

Adapun Seiton berarti menentukan tata letak suatu barang pada tempat yang sudah ditentukan sehingga jika dibutuhkan tidak mencari-cari kemana-mana karena lupa menyimpan, karena barang yang diletakkan sembarangan.

Sedangkan Seiso berarti membersihkan sampah dan kotoran juga benda asing sehingga ruangan yang kita gunakan akan terasa bersih dan lengang.

Ketiga hal di atas baik Seiri, Seiton, maupun Seiso (3S) sudah menjadi bagian dari keseharian kami di tempat kerja. Hari-hari yang kami lalui sudah sesuai dengan falsafah hidup orang Jepang dan memang terbiasa menerapkan 5S dalam kehidupan mereka.

Kendalanya adalah pada saat akan menerapkan prinsip 3S di rumah, di kehidupan sehari-hari bersama keluarga, ternyata susah sekali. Padahal gaya hidup minimalis dengan menerapkan prinsip-prinsip 3S ini sangat saya idam-idamkan dan ingin segera mewujudkannya.


Kenapa Menerapkan Hidup Minimalis di Rumah Sendiri Sangat Susah?

Pekerjaan saya, tidak menuntut banyak penggunaan kertas. Paling-paling hanya membutuhkan satu dua lembar saja per harinya. Itu pun tetap di tempat kerja tidak dibawa pulang. Sebaliknya dengan suami saya. Pekerjaannya menuntut ia membawa pulang kertas-kertas yang bermacam-macam. Sehingga banyak gundukan kertas dan dokumen lainnya. Jadi bingung mau merapikan dan menyumpan dimana karena semua lemari, rak, meja, sudah terisi semua.

Selain itu hobby saya membaca buku telah membuat rak buku kepenuhan. Lalu kami membeli dua container yang cukup besar sebagai wadah buku, namun lagi-lagi kepenuhan. Dan buku yang tidak punya tempat saya letakkan di area lainnya yang kira-kira pantas untuk ditaruh buku. Namun tetap saja terasa sesak.

Barang lainnya yang membuat rumah terasa sesak adalah pakaian. Orang bilang sumbangin saja. Duuh saya menyumbangnya saja malu. Bukankah ketika mau menyumbang kita tidak boleh memberi barang yang sudah jelek? Jadi kalau pakaian yang sudah agak pudar warnanya, mau disumbangkan jadi seperti menganggap bisa nyumbang tapi pakaian jelek.  Duh.

Sekarang ini saya masih mencari cara efektif bagaimana merapikan rumah dari barang-barang yang sudah jarang digunakan.

Thursday, 12 September 2019

Cara Menghentikan Bullying kepada Orang Lain



Di beberapa komunitas yang saya ikuti, terkadang ada saja satu dua orang yang memiliki sifat ajaib. Yang kerap membuat anggota komunitas lainnya tidak nyaman dan mengerutkan dahi. Seseorang yang akan menjadi bahan omongan di belakang grup, yang keanehan-keanehannya akan dirumpikan setiap kopdar. Yang karenanya, pembicaraan jadi asyik karena ghibah memang sulit dicegah. Mengalir begitu saja hingga semua aib-aibnya terkupas terkelupas secara rinci.



Bagi anggota komunitas yang tipe pemaaf, maka si orang yang memiliki sifat ajaib ini dianggap angin lalu saja, mereka dapat memaklumi. Namun bagi tipe pendendam, atau tipe iseng, atau tipe yang suka mencari-cari kesalahan orang lain, maka siap-siap saja untuk si tipe manusia ajaib ini akan di-bully habis-habisan. Di-bully secara verbal siang malam baik online maupun offline.

Pernah ada satu orang teman yang melakukan kesalahan sepele tidak menyapa teman-temannya yang baru datang di satu acara gathering. Mungkin dia sedang ada masalah atau lagi bad mood sehingga tidak sempat menyapa yang lain. Namun teman-temannya tidak terima dan menganggap dia sombong lalu mem-bully dengan cara menyindir-nyindirnya di grup. Yang lain yang tidak merasa, malah jadi ikut tersinggung. Namanya nyinyir di grup, ibarat satu yang ditembak ternyata yang tertembak kena semua. Saya merasa hal ini sudah tidak wajar lagi. Grup jadi tidak sehat karena penuh dengan nyinyiran.

Kesalahannya sepele, namun dendam berlanjut. Apapun yang dilakukannya selalu saja dibicarakan dan di-ghibahin. Sebelnya, saya jadi ikut terseret ke lingkaran itu lalu ikut-ikutan untuk tidak menyukainya. Karena merasa di-bully terus-terusan, maka dia pun menghilang dan jarang muncul di komunitas. Saya jadi curiga apa hal itu karena teman-teman lain suka menyindir dan nyinyir kepadanya.

Suatu saat saya merenung, kenapa saya tidak menyukai orang ini? Padahal dia tidak ada masalah dengan saya. Dia bermasalah dengan teman-teman saya. Lalu kenapa saya jadi tidak menyukainya dan cenderung ingin membuat dia terpojok? Dari sini saya menyadari bahwa saya terhasut. Ya, hasutan yang pelan-pelan dan tidak kelihatan. Ketika membaca tulisan orang lain yang tidak menyukai seseorang, menjelek-jelekkan seseorang, saya yang membacanya jadi turut menyetujui dan mengaminkan padahal belum tentu hal itu benar.

Perlahan saya mulai menjernihkan fikiran dengan tidak turut ikut campur jika orang lain mem-bully si teman ini. Terkadang saya memberikan pertanyaan yang memancing teman-teman yang tukang bully berfikir. "Kalau begitu memang kenapa? Toh tidak merugikan kamu kan?" Lalu menerangkan bahwa dia juga punya sisi baik. Selain itu menerangkan juga bahwa dia aneh mungkin saja karena melalui masa kecil atau masa remaja yang beda dengan kita. Mungkin masa lalunya perih atau ada luka lama sehingga tidak bisa sembuh dan membuat perilakunya agak beda dengan kita. Berusahalah melihat sisi baiknya. Berusahalah melihat sisi buruk kita.

Setiap teman-teman lain mem-bully-nya, saya berusaha untuk mencegah dan membelanya. Mengeluarkan berbagai nasihat yang ternyata ampuh untuk menggiring opini positif pada diri saya. Sekalian menasihati diri sendiri yang kadang sama juga dengan yang lain. Hobby ngomongin orang. Perlahan ternyata itu efektif. Teman-teman lainnya satu per satu berhenti mem-bully

Bersyukur, sekarang teman itu pun mulai muncul dan sering berinteraksi dengan kami seperti semula.

Kesimpulannya, jika ada teman mem-bully seseorang, dicari tahu kenapa dia sampai nge-bully. Dicari penyebabnya lalu dicarikan solusinya. Bukan ikut-ikutan mem-bully karena merasa teman itu benar. Berfikir jernih, kosongkan hati dan fikiran. Telaah apakah diri ini sudah lebih baik darinya atau bahkan lebih buruk. 

Dalam menyelesaikan masalah bully mem-bully ini, kita harus pintar-pintar menyiasati agar kedua belah pihak berdamai dan saling memaafkan. Kalau istilah dalam bahasa Sundanya, "Caina herang laukna beunang" (Airnya bening, ikannya dapat). Artinya dapat menyelesaikan masalah tanpa merugikan siapapun. Semuanya selesai dan baik-baik saja.

Wednesday, 11 September 2019

Mendamba Trekking di Gunung Pinatubo Filipina



Sejak kecil saya seorang penyuka gunung. Rasa suka yang kemudian berubah menjadi hobby. Ya, saya jadi kecanduan mendaki gunung dan telah menjalani hobby ini selama 21 tahun terakhir. Dulu setiap mendapatkan cuti tahunan, tidak ada tempat yang saya tuju untuk berlibur selain gunung dan gunung.Namun seiring bertambahnya usia dan tanggung jawab terhadap keluarga, kegiatan mendaki gunung ini perlahan mulai berkurang.

Namun, masih ada beberapa gunung yang jadi PR besar untuk didaki (tentunya selain Gunung Everest di Nepal). Salah satunya adalah Gunung Pinatubo di Filipina. Negara yang berbatasan dengan Indonesia ini memiliki beberapa gunung berapi aktif yang kondisi alamnya hampir sama persis dengan gunung-gunung berapi di Indonesia. 

Gunung Pinatubo. Sumber foto: https://dealgrocer.com
Filipina sudah lama menjadi wish list sebagai negara yang ingin saya kunjungi karena alasan di atas. Meskipun memiliki bentang alam dan pemandangan yang hampir mirip dengan Indonesia, namun tetap saja hiking dan traveling ke sana akan memiliki cerita unik tersendiri. Terlebih setelah menonton sinetron Filipina yang booming tempo hari di MNC Tv yang berjudul Pangako Sayo. Tambah penasaran ingin segera ke sana.

Saya mengetahui pertama kali tentang Gunung Pinatubo dari liputan film dokumenter National Geographic. Dan dibuat takjub dengan ledakan yang maha dahsyat yang disebabkan oleh letusan gunung ini. Satu dari dua letusan gunung terbesar yang terjadi pada abad modern.

Menurut catatan U.S Geological Survey, pada tanggal 16 Juli 1990 terjadi gempa berkekuatan 7,8 skala Richter yang melanda wilayah sekitar 100 kilometer Timur Laut Gunung Pinatubo di Pulau Luzon, Filipina. Yang mengguncang dan meremas kerak bumi yang ada di bawah Gunung Pinatubo. Gempa bumi besar ini menyebabkan tanah longsor, beberapa gempa lokal, dan peningkatan emisi uap dari daerah panas bumi yang sudah ada sebelumnya.

Pada bulan Maret dan April 1991, batuan cair (magma) yang naik ke permukaan lebih dari 20 mil (32 kilometer) di bawah Pinatubo memicu gempa bumi kecil dan menyebabkan ledakan uap yang kuat yang menghancurkan tiga kawah di sisi utara gunung berapi. Ribuan gempa bumi kecil terjadi di bawah Gunung Pinatubo hingga April, Mei, dan awal Juni. Beribu-ribu ton gas sulfur dioksida berbahaya juga dipancarkan oleh gunung berapi.

Dari tanggal 7 hingga 12 Juni, magma pertama mencapai permukaan Gunung Pinatubo. Karena telah kehilangan sebagian besar gas yang terkandung di dalamnya, dalam perjalanan ke permukaan magma mengalir keluar untuk membentuk kubah lava tetapi tidak menyebabkan letusan eksplosif.

Pada tanggal 12 Juni  tepat di Hari Kemerdekaan Filipina, jutaan meter kubik magma bermuatan gas mencapai permukaan dan meledak dalam letusan spektakuler pertama Gunung Pinatubo.

Ketika magma bermuatan gas
naik lebih tinggi hingga mencapai permukaan Pinatubo pada 15 Juni, gunung berapi itu meledak dalam letusan dahsyat yang mengeluarkan lebih dari 1 mil kubik (5 kilometer kubik) material. Awan abu dari puncak letusan tersebut naik  membumbung tinggi hingga 35 kilometer ke udara.

Abu pun bertiup ke segala arah dibawa oleh angin siklon yang kuat dari topan yang terjadi secara kebetulan. Dan angin di ketinggian yang lebih tinggi lagi meniupkan abu ke barat daya. Selimut abu vulkanik yang berisi pasir dan butiran-butiran mineral vulkanik dan kaca juga batu apung lapili (kerikil berbusa) menyelimuti pedesaan. Abu halus jatuh sejauh Samudra Hindia, dan satelit melacak awan abu beberapa kali di seluruh dunia.

Longsoran besar abu panas, gas, dan pecahan batu apung (aliran piroklastik) meraung di sisi Gunung Pinatubo, mengisi lembah yang dalam sekali dengan endapan vulkanik segar setebal 200 meter.
Menghapus begitu banyak magma dan batu dari bawah gunung berapi sehingga puncak runtuh untuk membentuk depresi vulkanik besar  atau kaldera seluas 2,5 kilometer.

Kerugian ekonomi dari letusan ini terhitung mencapai 8 miliar peso atau hampir Rp 2 triliun rupiah. Selain itu, 2,1 juta penduduk Filipina kehilangan tempat tinggal dan mata pencaharian. Hutan seluas 150 km persegi  pun rusak parah dan sekitar 800 km persegi lahan pertanian gagal panen. 

Menyimak cerita dibalik meletusnya Gunung Pinatubo ini saya takjub campur ngeri. Sungguh bencana-bencana seperti ini begitu dahsyat. Bagaimana pula kelak akhir zaman dimana gunung-gunung beterbangan bagai kapas yang ditiup angin. Bagaimana langit terbelah dan tergulung bagai selembar kertas.

Berkunjung ke gunung kerap membuat hati saya selalu mengingat akan kebesaran-Nya. Oleh sebab itu kegiatan seperti ini sering saya rindukan karena sedikit banyaknya jadi berusaha untuk mentadabburi alam.

Merelakan dan Berdamai dengan Diri Sendiri

Ada banyak keinginan yang berbuah kekecewaan. Ada banyak harapan yang berakhir keputusasaan. Pun ada banyak rencana yang berujung kegagalan....