Pilih Menjadi Blogger Full Time atau Blogger Part Time?



Menurut saya, menjadi blogger itu bukan pilihan. Namun keinginan. Saya tidak memilih dan memutuskan untuk menjadi blogger, namun itu terjadi mengalir begitu saja tanpa disengaja. Kesukaan akan dunia tulis-menulis menjadikan semua berjalan bagaikan sungai yang mengalir. Like a river flows, surely to the sea, begitu kata Babang Richard Mark.


Saat ini saya masih berstatus sebagai pekerja di sebuah perusahaan swasta. Sudah hampir 20 tahun bekerja di sana. Wow banget kan? Dan saya belum berani keluar dari zona nyaman ini. Banyak ketakutan dan berbagai pertimbangan yang mengungkung saya untuk tetap stay safe di sini.

Usia yang makin menua serta status karyawan permanen yang belum tentu didapatkan di tempat lain, menjadikan saya masih mager dan betah berlama-lama untuk bekerja di sana. Padahal perusahaan tempat dimana saya bekerja ini ya standar saja sih, tidak ada jaminan yang memberatkan jika saya harus keluar dari sana. Namun, kembali lagi masih ada ketakutan yang bercokol di fikiran saya.

Mengingat usia dan anak yang beranjak besar, sebenarnya saya ingin berhenti bekerja dan menjadi full time blogger saja. Membayangkan ketika suami dan anak berangkat kerja dan sekolah, saya mulai duduk manis di depan laptop sambil menyesap secangkir kopi. Mulai menulis blog dengan penuh ketenangan karena di rumah sendirian.

Lalu ketika anak saya pulang, bisa memasakkan makanan kesukaannya dan membersamainya untuk bermain. Menemani tidur siang hingga menbantunya mengerjakan PR. Ya itulah harapan saya. Menjadi fulltime mother yang sekaligus fulltime blogger. Harapan yang semoga kelak terwujud. Karena mungkin dengan begitu, kemampuan menulis saya bisa berkembang. Ide-ide yang selama ini terkungkung oleh mesin dan ruangan pabrik akan menembus batas-batas yang selama ini menghalangi kreatifitas.

Selama ini, ngeblog hanya sisa-sisa waktu dikala pulang kerja. Itupun setelah semua pekerjaan rumah selesai dikerjakan. Maka ketika duduk di depan laptop, bukan semangat yang menyala-nyala namun ngantuk yang mendera. Alhasil segera tutup laptop dan tersungkur di sudut kasur.

Lalu saat pagi tiba, begitu banyak hal yang perlu dipersiapkan. Laptop hanya menyala tanpa tersentuh hingga beberapa menit menjelang berangkat kerja. Tersentuh kembali hanya untuk dimatikan. Sedihnya. Begitulah cerita emak blogger yang bekerja seperti saya.

Comments