2 Hal Yang Paling Disesali Saat Ini


Kehidupan bergulir begitu cepat. Banyak hal penting yang terlewat begitu saja tanpa kita sadari. Mungkin karena terlalu asyik dengan satu pekerjaan sehingga hal penting lainnya tidak terfikirkan sama sekali. Begitu juga saya memandang akan kehidupan ini. 


Semua terasa bergerak begitu cepat dan bahkan saya belum melakukan apa-apa, namun usia sudah perlahan menua. Fisik sudah pelan-pelan melemah. Ingatan pun sudah kerapkali memudar. Kalau sudah begini, baru terfikirkan kenapa dulu tidak begini tidak begitu. Tidak melakukan ini tidak melakukan itu. Orang Sunda bilang, menyesal itu datangnya belakangan. Kalau di depan itu ditabrak kambing (saat menuntunnya). Ya iyalah menyesal berjalan di depan kambing, harusnya di belakang. 😃 

Sejak dulu saya menyukai hal-hal yang religius. Melihat betapa banyak dan mudahnya anak-anak dalam menghafal Al Qur'an, saya jadi menyesal kenapa dulu tidak belajar menghafal Al Qur'an secara serius. Kenapa juga saya tidak diarahkan? Kenapa saya tidak mengarahkan diri untuk belajar Al Qur'an. Ya sangat menyesal. Padahal seandainya sejak dulu belajar Al Qur'an secara serius, mungkin saya sudah menjadi hafizah yang kelak akan menganugerahkan mahkota kepada kedua orang tua di akhirat.

Sekarang, meskipun terlambat saya sudah berniat untuk belajar menghafal Al Qur'an. Walaupun masih stuck di Al Baqoroh. Terkadang banyak sekali lupanya. Berulang kali berhari-hari. Namun tentu tidak patah semangat karena pengulangan hafalan adalah proses penguatan dalam ingatan. Atau barangkali dengan mengulang-ulang hafalan yang tidak hafal-hafal itu, Allah SWT akan menghapus satu per satu dosa saya. Semoga saja. Karena, satu huruf saja dalam AL Qur'an dibacakan, maka nilainya sama dengan 10 pahala. Selalu berbaik sangka saja kepada Allah, semoga memang demikian adanya.

Hal lainya yang paling saya sesali adalah kenapa tidak melanjutkan kuliah S2. Ada begitu banyak kesempatan yang datang silih berganti, namun saya tetap masih takut untuk melangkah jauh lagi. Meninggalkan zona nyaman yang masih dinikmati. Padahal kalau mempertimbangkan keuangan, Insya Allah ada rejekinya. Pun begitu juga suami, ia sangat mendukung sekali. Semoga saja saya tidak terlambat untuk melangkah maju. Menuntut ilmu yang sejak dulu saya mimpi-mimpikan.
 

Comments